oleh

Kelompok Tani Mulya Terima Bantuan 10 Ekor Sapi Gaduh

BANGKA — Wakil Bupati Bangka Syahbudin menyerahkan sepuluh ekor sapi gaduh kepada kelompok tani Mulya Desa Riau, Kecamatan Riau Silip. Sepuluh ekor sapi gaduh itu merupakan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bangka melalui Dinas Pertanian kepada kelompok tani Mulya.

Dikesempatan ini bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Wabup Bangka kepada kelompok tani Mulya didampingi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangka Kemas Arfani Rahman. Adapun bantuan sapi itu berasal sari jenis sapi bali yang terdiri dari sembilan ekor sapi betina dan satu ekor sapi jantan.

“ Pada pronsipnya kita berharap supaya apa yang telah diberikan, dalam bentuk gaduh ini, nantinya bisa dipelihara dengan sebaik-baiknya, bisa benar-benar bermanfaat, bisa mensejahterakan masyarakat dan mudah-mudahan bisa berkembang lebih banyak lagi,” ungkap Wabup, Jum’at sore (01/03/2019).

Beliau menambahkan, sejak awal dirinya ingin program tersebut ini dapat dilaksanakan di beberapa tempat di wilayah Kabupaten Bangka, tentunya bagi masyarakat Kabupaten Bangka yang berkeinginan, berkemauan untuk memelihara sapi, ingin beternak sapi.

“ Kita berharap kelompok tani Mulya ini, bisa memberikan motivasi bagi kelompok tani lainnya. Tentunya program sapi gaduh ini, bergiliran, tidak bisa langsung semua, harus sabar, karena keterbatasan bibit indukkan sapi yang terbatas. Tapi saya yakin, bantuan sapi gaduh yang diberikan saat ini, bisa berkembang biak, bisa digulirkan kepada kelompok tani berikutnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangka Kemas Arfani Rahman dalam kesempatan tersebut mengatakan pihaknya sudah cukup lama menerapkan pola sapi gaduh ini. Dikatakannya untuk sapi gaduh yang beredar di masyarakat sekarang berjumlah lebih dari 270 ekor. Dimana program sapi gaduh tersebut terus dilaksanakan setiap tahun.

“ Untuk program sapi gaduh yang kita laksanakan, polanya ada dua macam sumber dana, sumber indukkan sapi ini. Yang pertama, dari pengembaloian sapi gaduhan yang telah berjalan. Itu adanya di UPT Pembibitan Ternak yang ada di Desa Air Duren perbatasan dengan Desa Sempan. Kemudian, kedua, melalui dana APBD. InsyaAllah yang akan kita laksanakan sekitar pertengahan tahun 2019 ini. Itu nantinya telah kita siapkan, untuk 20 ekor sapi. Itu polanya kita beli dari luar Pulau Bangka, dari Propinsi Lampung maupun langsung dari Propinsi Bali. Sapi tersbut setelah kita beli, kita isolasi dulu di UPT Pembibitan Ternak sebelum diserahkan kepada masyarakat,” jelasnya.

Ditambahkannya, yang ada sekarang ini adalah sapi-sapi yang ada ditempat pembibitan (UPT Pembibitan Ternak-red). Dijelaskannya, di tempat pembibitan tersebut, sifatnya zero group, tidak ada penambahan jumlah. Kalaupun ada lebih, pihaknya akan menyerahkan indukkan sapi tersebut kepada masyarakat. Kalau ada lebih pengembalian sapi dari masyarakat, pihaknya salurkan lagi kepada masyarakat.

“ Jadi bukan sistem guliran, sebetulnya, tetapi kita sistemnya pengembalian. Kalau guliran bisa saja antar kelompok dengan kelompok lain. Kita tidak menganut yang seperti itu, kita menganut sistem pengembalian. Untuk pola sapi gaduh ini sudah ada aturannya dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia, untuk masa lima-enam tahun, tergantung permufakatannya. Pengembalian sapi gaduhan ini adalah anakkannya, anakkan sapi yang sudah sapih, sapih artinya tidak tergantung lagi dengan induknya, sudah lepas menyusui dengan induknya, dimana umurnya sekitar satu tahun enam bulan,” katanya.

Dijelaskannnya, terkait pola pengembalian sapi gaduhan untuk masa lima-enam tahun, kalau sapinya bantuannya jantan, pengembaliannya satu ekor anakkan. Sedangkan kalau sapi bantuannya betina, maka pengembaliannnya dua ekor anakkan sapi. Namun beriring berjalannya waktu, kalau misalnya ada sapi jantan yang banyak, hal ini bisa dikomersilkan, sapi-sapi jantan tersebut bisa dijual, hasilnya untuk membeli sapi betina baru, hal ini boleh. Dari jantan ini, kita beli betina baru. Perkembangbiakan bukan hanya dari peranakan budidaya saja tetapi juga bisa dengan pengembangan seperti hal tersebut.

“ Jadi kita jual jantan dua anakkan, kemudian kita beli satu indukkan betina, itu boleh, silahkan seperti itu,” ujarnya.

Dijelaskannya lebih lanjut, selama lima-enam tahun berjalannya program sapi gaduh tersebut, pihaknya memprediksikan, sapi indukkan betina itu tidak hanya menghasilkan dua indukkan saja tetapi bisa lebih dari itu. Karena yang mereka serahkan ini, sifatnya indukkan yang sudah siap kawin, bukan bibit lagi.

“ Nantinya akan dibina oleh kawan-kawan Penyuluh, Dokter Hewan maupun para medik yang ada di Dinas Pertanian Kabupaten Bangka. Kunci keberhasilan daripada peternak ini adalah komunikasi, jangan putus komunikasi. Kalau putus komunikasi, terjadi halangan, kemudian terlambat menyampaikan kepada kami (Dinas Pertanian Kabupaten Bangka-red) resikonya ada di peternak. Tapi kalau komunikasinya lancar, Insya Allah tidak ada masalah,” ungkapnya.

Dikesempatan yang sama, Ketua Kelompok Tani ‘Mulya’ Rusmansyah ketika ditemui setelah menerima bantuan sapi gaduhan sebanyak sepuluh ekor sapi, pihaknya bertekad akan merawat dan memelihara amanah Pemerintah Kabupaten Bangka tersebut, dengan sebaik-baik, hingga bisa berkembangbiak dengan baik nantinya.

“ Terima kasih banyak kepada Pemerintah Kabupaten Bangka, apalagi Bapak Wabup Bangka sendiri turun langsung menyerahkan bantuan ini,” tuturnya. (Rilis)

 

Sumber : Dinas Kominfotik Pemkab Bangka

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed