HEADLINEPEMPROV BABEL

Ketua Dekranasda Mengenal Batu Satam Khas Pulau Belitung

×

Ketua Dekranasda Mengenal Batu Satam Khas Pulau Belitung

Sebarkan artikel ini

BELITUNG — Setelah beberapa tahun terakhir menjabat Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Melati Erzaldi berkesempatan mengunjungi seorang pengrajin cinderamata Batu Satam, Jumat (11/06), di Galeri milik Firman Zulkarnaen di Desa Pangkal Lalang, Tanjung Pandan.

Menyadari adanya pengrajin cinderamata atau penggiat batu satam khas Pulau Belitung, Melati Erzaldi mengatakan. dari beberapa kali expo yang diikuti Dekranasda Babel, dirinya belum pernah bertemu langsung dengan Firman Cinderamata, karena biasanya peserta yang difasilitasi merupakan UKM atau IKM yang direkomendasikan oleh Kabupaten.

“Berdasarkan rekomendasi dari Disperindag Babel, hari ini saya mengunjungi sendiri galeri kerajinan milik Pak Firman Zulkarnaen,” ungkap Melati Erzaldi.

Firman Zulkarnaen yang berusia 66 tahun, telah berkiprah selama 32 tahun untuk mempelajari hingga memperkenalkan pada masyarakat luas tentang Batu Satam, yang jika diartikan, Pasir Empedu (sa = pasir dan tam = empedu).

Bangsa Belanda menyebutnya billitonite, sedangkan Amerika yang banyak melakukan penelitian Batu Satam, menyebutnya tectite, walau umumnya dikenal dengan sebutan batu meteorid.

“Saya golongan orang yang berkarya. Sejak dulu, pekerjaan sulit sekali dicari sehingga saya berfikir harus menciptakan lapangan pekerjaan untuk diri sendiri dan orang lain,” ungkap Firman bersemangat.

Firman menjelaskan, selain batu satam, Kayu Simpor Laki, Kayu Petaling, Kayu Akar Bahar Merah dan Kayu Cendana, menjadi koleksi di galerinya. Masing-masing dari benda-benda ini memiliki manfaat tersendiri dalam kehidupan manusia.

“Merupakan harta paling berharga bagi saya, di antara ratusan batu satam yang saya temui, dua di antaranya bertulis Allah dan Muhammad dalam tulisan arab,” kata dia, sambil menunjukkan Batu Satam yang dimaksudnya.

Tidak sedikit petinggi Indonesia yang menggunakan salah satu cinderamata berbentuk tongkat komando karya Firman, hingga Ia menyebutnya, “Satam dari langit, akar bahar merah dari bumi, bumi dan langit dipegang dalam bentuk tongkat komando.”

Bahkan, sesuai dengan manfaat masing-masing, tongkat komando dibentuk dari 3 kayu khas Babel yang ditumpuk memanjang.

“Biasanya saya bertemu petinggi-petinggi negeri dalam pameran tingkat nasional seperti PRJ yang rutin saya ikuti selama 19 tahun,” lanjut Firman menjelaskan kepada Ketua Dekranasda, yang baru pertama kali bertemu dengannya. (*)