oleh

Kita Vs Body Image

Oleh : Arinda Vivi Fitria
Mahasiswa PAI Stainu Temanggung

Body Image atau Citra tubuh, Hal ini tentunya dapat di terima oleh banyak orang. Citra tubuh merupakan suatu sikap, pandangan, kepercayaan, dan persepsi seseorang terhadap fisiknya. Hal ini sangatlah subjektif karena semuanya berada di kepala. Citra tubuh di kategorikan menjadi dua macam, yaitu citra tubuh Positif dan citra tubuh negative. Jika seseorang memiliki Citra tubuh yang positif maka seseorang tersebut akan merasa puas dan tidak ada kritik berlebih yang dapat melukai hati maupun pikirannya, menerima diri apa adanya dan mereka menyadari bahwasannya penilaian orang lain yang diutarakan adalah murni penilaian dari luarnya saja.

Berkebalikan dengan seseorang yang memiliki Citra tubuh negatif, mereka tidak puas dengan dirinya sendiri, tidak dapat percaya diri dengan ketidaksempurnaannya, dan beberapa dari mereka merasa bahwa ada yang perlu dirubah dari fisik mereka. Citra tubuh ini sangat penting bagi kita semua karena akan mempengaruhi kondisi mental seseorang. Terutama untuk seseorang yang memiliki citra tubuh negatif, karena ketidakpuasannya akan menimbulkan depresi, mempengaruhi kesehatan fisik sehingga mendatangkan penyakit seperti gangguan makan, anoreksia dan bulimia.

Berbicara tentang citra tubuh biasanya banyak terjangkit kepada perempuan. Namun sebenarnya bukan hanya pada perempuan saja, seorang laki-laki pun bisa mengalami masalah yang sama karena laki-laki juga dapat merasakan insecure terhadap badannya sendiri. Sisi menariknya, laki-laki cenderung menutup kekurangannya. Lalu kenapa hanya perempuan saja yang berlebihan dalam menilai fisik mereka? Walaupun memang di dunia ini tidak ada perempuan yang suka di body shaming atau mempermalukan kondisi fisiknya. Namun perempuan itu sendiri lebih sering mempermalukan orang lain dari pada laki-laki.

Standar Kecantikan

Beberapa hal yang dapat mempengaruhi Citra tubuh seseorang dapat di lihat dari faktor eksternalnya yaitu media (tv,majalah, sosial media, keluarga, teman, pasangan). Citra tubuh banyak di kaitkan dengan standar kecantikan yang tentunya di tetapkan oleh stigma masyarakat melalui media. Dari sekian banyaknya negara di belahan dunia mempunyai standar kecantikan yang berbeda-beda. Jika di Indonesia menerapkan standar kecantikan dengan kulit yang putih, mulus, tanpa jerawat, kurus, berbeda dengan negara Mauritania yang mempunyai pandangan jika perempuan tidaklah baik jika terlalu kurus, perempuan-perempuan muda yang akan melaksanakan mernikahan, mereka akan dipaksa untuk makan agar menjadi gemuk. Perempuan yang gemuk di anggap sebagai simbol kekayaan dan kemakmuran. Dan standar kecantikan akan selalu berubah-ubah seiring berjalannya waktu.

Media sosial berpengaruh untuk Citra tubuh, apalagi saat melakukan aktivitas yang berhubungan dengan foto, seperti scrooling instagram, bahkan mempublish foto diri kita sendiri. Selain media sosial, produk kecantikan juga berkontribusi ke body image issue yang di miliki oleh banyak orang. Alasan pertama adalah membuat insecure, yang kedua adalah pengambilan untug dari ketidakpercayaan diri terhadap apa yang kita miliki.

Citra tubuh negatif ini menuntut seseorang untuk menutupinya dengan berbagai hal, namun di masa kini jalan alternatif yang di gunakan adalah editing foto dengan menggunakan aplikasi seperti photoshop ataupun facetone agar mereka terlihat lebih sempurna di sosial media. Tidak hanya berhenti di situ saja, kini banyak orang yang mengkonsumsi obat diet dan banyak yang sudah paham bahwasannya mengkonsumsi suplemen diet tidak baik untuk kesehatan.

Jangan membohongi diri sendiri

Pendampingan diri kepada sesuatu yang lebih positif, apakah benar-benar harus di lakukan? Sangatlah sulit jika kita memaksa kepada media agar berada di garis positif dan mempunyai stigma positif terhadap citra tubuh. Semua orang itu unik, hanya saja kita harus menambah rasa syukur kita terhadap apa yang telah di berikan. Kita seharusnya bisa bertanggung jawab dan lebih kritik terutama untuk diri kita. Contoh kasusnya adalah tentang bermake up bagi seorang perempuan. Seharusnya kita tau sebab akibat yang kita lakukan, apa value dari bermake up bagi diri kita, akankah untuk menyembunyikan kekurangan kita karena masalah kulit kusam dan berjerawat? Ataukah memang karena alasan lain? Atau bahkan karena di permainkan dengan standar kecantikan? Atau bahkan karena paksaan? Mari kita identifikasi diri kita masing-masing, kenapa hal tersebut membuat kita insecure atau tidak percaya diri.

Kita sebagai masyarakat harus ikut mengkampanyekan citra tubuh positif ini, perihal mengkampanyekan dan mengaplikasikannya dapat di kembalikan kepada diri kita sendiri, jangan berusaha membohongi diri kita sendiri dan orang lain dengan melihat foto yang terpublish di sosial media. Kita dapat memulainya dengan hal-hal kecil seperti berhenti menggunakan aplikasi untuk mengedit foto karena merasa insecure, jika bertemu dengan teman berhentilah membahas citra tubuh, jangan manggil teman dengan sebutan “ndut” walaupun terlihat sangat sederhana namun hal itu dapat berkontribusi terhadap isu citra tubuh. Selain itu kita harus mengkontrol diri kita dan merawat tubuh kita. Self love. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan