oleh

Kurangnya Pemahaman Masyarakat Tentang Sexual Harrasment

Oleh: Viona Marvella
Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung


Sexual harrasment atau yang lebih dikenal dengan pelecehan seksual, sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat. Namun sayangnya, masih banyak orang yang belum mengetahui bahwa bentuk sexual harrasment bukan hanya sekedar pelecehan seksual secara fisik saja, melainkan segala perbuatan yang mengarah kepada tindakan seksual yang menimbulkan rasa takut atau tidak nyaman dan merugikan pihak si korban. Menurut Komnas Perempuan, pelecehan seksual merujuk pada tindakan bernuansa seksual melalui kontak fisik maupun non fisik, yang ditujukan pada bagian tubuh seksual atau seksualitas seseorang.

Catcalling yang berupa komentar atau candaan yang bersifat seksual, pelecehan isyarat yang berupa gerakan tubuh yang mengarah ke tindakan seksual dan ditujuhkan kepada si korban, pelecehan visual berupa membagikan atau memberikan konten pornografi seperti foto dan video, pemaksaan seksual yang berupa ajakan atau paksaan yang bersifat seksual secara terus menerus dan tidak diinginkan bahkan sampai mengancam si korban, dan pelecehan fisik berupa tindakan atau sentuhan yang mengarah ke perbuatan seksual seperti mencubit, menepuk, mencium bahkan memperkosa. Pelecehan ini merupakan jenis pelecehan yang paling parah dan yang paling dikenali oleh masyarakat dibandingkan pelecehan yang lainnya. Inilah yang termasuk macam-macam jenis pelecahan seksual yang jarang diketahui oleh masyarakat awam.

Sebenarnya sudah sangat banyak kasus pelecehan seksual ini terjadi, namun banyak juga orang yang lebih memilih diam daripada menceritakan ataupun melaporkannya. Kebanyakan orang yang tidak menceritakan pengalamannya menjadi korban pelecehan seksual kepada kerabat terdekat ataupun keluarganya karena mereka akan beranggapan bahwa hal ini adalah aib dan lebih baik bungkam daripada diceritakan, ataupun si korban tidak tahu bagaimana ia harus menceritakannya dan takut akan menceritakan kepada orang yang salah. Karena beberapa faktor inilah yang membuat si korban berfikir jika menceritakan kepada orang lainpun tidak akan menyelesaikan masalahnya. Akan tetapi mereka tidak sadar atau memperhatikan bahwa hal ini akan berpotensi mengganggu psikologi korban.

Rasa trauma akibat dari pelecehan seksual akan merusak kejiwaan atau hubungan sosial korban, biasanya korban pelecehan seksual akan cenderung menutup diri dari pergaulan atau merasa dirinya sudah tidak berharga dan malah terjun ke pergaulan bebas. Rasa trauma yang dialami korban pelecehan seksual jika tidak segera ditanggulangi pasti keadaan korban akan menjadi semakin buruk. Namun, berbagai efek buruk dan trauma terjadi dapat dihentikan dengan cara melakukan pendekatan kepada korban. Dan cara ini lebih bijaksana jika pendekatan terhadap korban dilakukan oleh lawan jenis pelaku, karena korban biasanya akan trauma terhadap hal yang sama dengan apa yang ia alami.

Proses pendekatan yang bisa dilakukan untuk menghilangkan rasa trauma pelecehan seksual pada korban antara lain dengan cara pendekatan secara perlahan, karena rasa malu dan trauma mendalam serta rasa tidak berharga membuat korban cenderung menutup diri dan tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Menyediakan waktu agar korban tidak sering menyendiri sebab kesendirian akan dengan mudah membuat korban teringat peristiwa buruk yang ia alami.

Memberikan rasa sayang yang tulus dan menerima dia apa adanya, hal ini akan melepaskan rasa kasih dan sayang yang dapat menyingkirkan trauma dan memulihkan hati dari segala luka. Jadilah pendengar yang baik ketika korban sudah mulai terbuka menceritakan segala peristiwa yang telah dialaminya. Menuntun korban untuk mengampuni dan mengikhlaskan karena jika untuk melupakan kejadian yang telah dialaminya sangatlah susah tetapi tuntun ia agar ikhlas. Jika ia sudah mengikhlaskan apa yang sudah terjadi maka ia akan mengalami perubahan yang luar biasa dan bisa hidup dengan normal bahkan ia akan menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin bebas seperti apa yang telah dialami olehnya.

Seharusnya sex education diberikan sedini mungkin karena ini sangat penting dan sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan rata-rata pelecahan seksual lebih banyak dialami oleh anak-anak yang belum mengerti dan mereka baru menyadarinya ketika beranjak remaja. Anak-anak rentan menjadi korban pelecehan seksual karena rata-rata umur anak 4-10 tahun memiliki sifat yang cukup introvert dan jarang sekali menceritakan kehidupan sosial mereka.

Selain itu, kemampuan berkomunikasi diumur anak-anak segitu belum semaksimal orang dewasa. Oleh karena, itu sebagai orang tua, ini adalah suatu permasalahan dan mereka harus tahu bagaimana cara membangun komunikasi dengan baik pada anaknya.

Saat ini, upaya pemerintah dalam melindungi korban pelecehan seksual belum maksimal. Hal ini dikarenakan belum ada hukuman yang bisa membuat pelaku jera. Setidaknya pemerintah membuat hukuman penjara seumur hidup bagi pelaku pelecehan seksual atau ada upaya lain yang bisa merubah cara pandang pelaku agar tidak menjadi pelaku pelecehan seksual selepas dari adanya hukuman ini. Dan juga menjadikan sistem pendidikan di Indonesia mampu membentuk cara pandang yang mengarah ke penghormatan wanita. Serta didampingi dengan edukasi yang dilakukan baik dilembaga formal maupun non-formal.

Oleh sebab itu, untuk melindungi korban dari kasus pelecehan seksual maka hukum di Indonesia harus mengalami pembaharuan. Hal ini dikarena hukum materiil di Indonesia saat ini masih belum mampu menghadapi tindakan pelecehan seksual yang terjadi. Contohnya saja dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang masih banyak mengatur pelecehan seksual secara fisik, dan didalam UU Kekerasan Rumah Tangga hanya mengatur kekerasan seksual di ruang lingkup privasi saja.

Selain pembaharuan hukum materiil, Indonesia juga membutuhkan pembaharuan hukum pada hukum formil karena masih membutuhkan alat bukti berupa keterangan saksi. Sedangkan pelecehan seksual biasanya terjadi ditempat sepi, dimana tidak ada saksi yang melihat kejadian tersebut. Atau pelecehan seksual yang terjadi berupa catcalling atau melalui kalimat yang dimana sudah dianggap biasa oleh sebagian besar masyarakat.

Kondisi inilah yang menyulitkan korban untuk melaporkan kejadian pelecehan seksual yang ia alami. Dan juga hukum di Indonesia belum memberikan pemulihan kondisi kepada korban pelecehan seksual, padahal hal ini sangat penting dalam mempengaruhi kesehatan mental korban. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan