oleh

Lika-Liku Pembelajaran Jarak Jauh

Oleh: Siti Munadah
Mahasiswi Stainu Temanggung

Bukanlah waktu yang sebentar, kita semua telah berkecimpung dengan pembelajaran jarak jauh ( PJJ ) .Ingin sekali rasanya keadaan seperti ini segera berakhir, tapi apalah daya kita? Masih banyak daerah dengan nilai angka penyebaran COVID-19 yang kecilsehinggamasih menjadizona hijau sampai saat ini. Banyak yang sudah mengeluh kapan pembelajaran tatap muka akan dimulai dan kapan PJJ yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makariem ini berakhir.

PJJ merupakan programpembelajaran yang saat ini dilakukan oleh civitas pendidikan di seluruh penjuru Indonesia ini. Tentu saja banyak kendala dalam pelaksanaan tersebut karena tidak mudah bagi guru, khususnya, menyampaikan materi kepada siswanya melalui aplikasi dalam jaringan seperti Whatsapp, Google Classroom, Zoom Class Meeting masih banyak lagi.

Kendala juga sangat dirasakan oleh mayoritas siswa yang berasal dari keluarga dengan perekonomian pas-pasan, siswa yang jauh dari kata “mudah sinyal”, bahkan siswa yang orang tuanya mampu dan memadai namun tak dapat memanfaatkan fasilitas dengan baik dan benar. Jika tak dicari jalan keluar dari permasalahan tersebut, maka bukannya teratasi malah justru sebaliknya, kendala tersebut akan menjamur di seluruh lapisan negeri ini.

Keluhan demi keluhan yang mencuit dari sebagian wali murid yang juga merasakan kesulitan dalam program pembelajaran jarak jauh. Mulai dari ketidakmampuan dalam membeli ponsel pintar, banyaknya pengeluaran untuk membeli paket data untuk kelangsungan belajar anak-anak mereka, dan kendala lain yang memungkinkan mereka untuk sulit mendapatkan pengajaran dari guru yang bersangkutan. Bahkan tak sedikit dari mereka yang mengajukan agar pihak sekolah memberikan bantuan berupa paket data untuk belajar siswa.

Pembagian bantuan yang diajukan memang sempat diturunkan oleh pemerintah, namun presentase pemerataan dalam realitanya masih rendah. Ada daerah yang mendapatkan fasilitas kuota internet gratis namun sinyal tak sampai di daerah tersebut, ada pula daerah yang sudah memadai dalam hal sinyal, namun tak mendapat bantuan sama sekali dari pemerintah. Tentu saja hal itu menimbulkan kecemburuan sosial pendidikan dalam masyarakat.

Selain itu, bantuan kuota internet gratis hanya berbatas 2 bulan semenjak kuota resmi diaktifkan. Padahal jika dirasakan yang sebenarnya, dampak social distancing akibat virus corona ini menjadi dilemma bahkan hampir satu tahun. Keresahan tersebut muncul satu per satu di media sosial dari wali murid, siswa, bahkan guru pun merasakan kesulitan yang sama.

Dari ulasan singkat diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap pendidikan di Indonesia ini. Adapun dampak tersebut dapat berupa dampak negative dan dampak positif.

1. Dampak Negatif

a. Membengkaknya biaya pengeluaran untuk membeli ponseldanpaket data.

b. Ada beberapa peserta didik yang masih menggunakan smartphone milik kakaknya atau orang tuanya sehingga tidak bisa melakukan pembelajaran secara efektif seperti saat pembelajaran tatap muka.

c. Ketika peserta didik kurang pantauan dari orang dewasa, ditakutkan mereka akan membuka konten negatif yang tidak sepantasnya ditonton oleh mereka, mengingat usia mereka masih sangat belia.

d. Tingkat pemahaman yang sangat minim bagi peserta didik yang ketika pembelajaran tatap muka masih harus dibimbing secara intensif.

e. Menimbulkan kecemburuan sosial antara masyarakat yang dapat beradaptasi dengan lingkungan IT dengan masyarakat yang masih buta akan IT.

2. Dampak Positif

a. Mampu meningkatkan kemandirian belajar siswa. Dengan pembelajaran PJJ, peserta didik dapat mengulangi kembali penjelasan dari guru dan dapat pantauan langsung dari orang tua.

b. Orang tua peserta didik jadi lebih mudah mengobservasi dan memantau secara langsung proses belajar anaknya.

c. Wali murid peserta didik jadi lebih tau lebih dalam anaknya sendiri, bagaimana karakter anaknya ketika belajar.

d. Mengasah kemampuan IT lapisan masyarakat untuk dipergunakan dengan bijak, contohnya dalam bidang pendidikan.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sampai saat ini masihmenuai kendalanya yang cukup banyak, antara lain sebagai berikut:

1. Tidak bisa memaksimalkan penggunaan metode daring karena keterbatasan yang dimiliki, sepertiponsel, sinyal, kuota internet, dan lain-lain.

2. Kurang maksimal dalam penyampaian materi karena keterbatasan waktu untuk home visit.

3. Kurangnyapemahamandalam menggunakan aplikasi-aplikasi pendukung untuk penyampaian materi dalam daring.

4. Pencapaian materi tidak mencapai target, yaitu tidak sesuai dengan peta pembelajaran yang telah dirancang pada kurikulum darurat masa pandemi. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan