oleh

Mahasiswa Dipaksa Menulis

Oleh: Sofiyatus Sa’adah
Mahasiswa PAI STAINU Temanggung


Menulis sebenarnya adalah asupan sehari-hari bagi mahasiswa karena memang hampir semua tugas mata kuliah membutuhkan kemampuan menulis. Namun bagi mahasiswa yang tidak menyukai menulis pasti mereka akan menggunakan kombinasi tombol ctrl+c dan ctrl+v sebagai jalan ninjanya. Menulis bagi mereka hanya untuk menggugurkan kewajiban untuk mengumpulkan tugas saja, masalah plagiasi urusan belakangan bahkan nyaris tidak dipikirkan. Lebih miris lagi jika mereka malah rajin menulis di media sosial hanya sekedar update status yang tidak bermanfaat untuk orang yang membacanya, namun untuk menghasilkan sebuah karya berupa tulisan antusiasnya sangat kurang. Sering kali mendiagnosa diri bahwa menulis itu pusing, susah mencari ide dan inspirasi, takut stuck, bahkan insecure sama tulisan sendiri. Itu semua sebenarnya hanyalah alasan bagi mereka yang tidak mau dipaksa.

Menurut dosen Karya Tulis Ilmiah Hamidulloh Ibda, menulis adalah urgenitas, mahasiswa harus mampu menghasilkan produk output berupa karya tulis yang orisinil, genuie dan bebas plagiasi. Sebenarnya setiap mahasiswa bisa menulis asalkan mempunyai idealisme, banyak membaca, terbiasa dan mau berusaha. Kebiasaan dan kemauan inilah yang harus dipaksakan, bukankah menumbuhkan kebiasaan itu memang harus dipaksa?

Menulis itu bukan bakat namun sebagai suatu konsistensi yang harus dipaksakan. Bagi mahasiswa yang kesehariannya suka menulis dan sudah mejadikan menulis sebagai suatu kebiasaan tentu akan mudah jika dipaksa untuk menghasilkan karya berupa tulisan, uneg-uneg dan sekedar curhatan mereka pun jika diolah bisa menjadi ragam tulis yang bisa dinikmati orang lain dan ketika nantinya dihadapkan dengan situasi yang mengharuskan mereka untuk menulis misal berupa tugas akhir berupa skripsi, tesis atau disertasi pastinya sudah tidak akan mengalami kesulitan. Tidak yang bisa diharapkan jika untuk berkarya saja diperoleh dari hasil jiplakan atau mengandalkan jasa orang lain.

Dosen maupun pihak kampus yang memaksa mahasiswanya harus bisa menghasilkan produk karya tulis menurut saya bukan sebuah pemaksaan melainkan ini adalah sebuah keharusan yang harus dilakukan setiap kaum akademisi, karena memang sifat khas mahasiswa adalah pada kekuatan daya penalarannya. Bahkan saat ini instrument akreditasi program studi kampus pun menanyakan tulisan mahasiswa di media massa baik skala lokal, nasional sampai internasional. Menulis menjadi bagian integral dalam kegiatan mahasiwa di kampus, melalui tulisan mahasiswa diharapkan memiliki ketrampilan menalar terhadap fenomena yang dijumpainya. Sebuah kebanggaan tersendiri jika kampus mampu menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang mampu berkarya.

Sepenggal mantra dari sastrawan Pramoedya Ananta Toer bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Benar sekali dengan menulis kita bisa tetap dikenang, bisa menebarkan kebaikan melalui tulisan. Karya kita akan abadi, berbeda dengan tulisan di status whatsapp yang bisa mudah dilupakan seseorang beberapa saat kemudian.

Manusia yang dijuluki sebagai “agent of change” ini sebenarnya juga bisa menyalurkan pikirannya terhadap situasi dan kondisi sosial lingkungannya melalui tulisan. Adanya media sosial seharusnya menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan informasi, menuangkan pendapat melalui tulisan untuk menyuarakan pemikirannya terhadap perubahan dan pergerakan. Melalui tulisan, kita bisa menjadi agen perubahan melalui ide yang dituangkan yang bisa mempengaruhi pembaca dan membentuk opini public (public opinion). Jadi, mahasiswa harus dipaksa menulis, setidaknya ketika mulutnya dibungkam masih ada pena yang berbicara. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan