oleh

Manajemen Klinik Bakti Timah Toboali Sampaikan Permintaan Maaf Kepada Husni

BANGKA SELATAN — Pihak manajemen Klinik Bakti Timah Toboali, menyampaikan permohonan maaf kepada Husni (44), warga Toboali, Kabupaten Bangka Selatan.

Hal tersebut disampaikan langsung Kepala Klinik Bakti Timah Toboali, dr. Nursakti Awan Adhi, terkait hasil tes swab antigen positif Covid-19. Padahal setelah di tes ulang sampai 2 kali, ternyata hasilnya negatif.

“Saya menyampaikan permintaan maaf, karena kami tidak ada tujuan apapun atau niat apapaun, memang hasil alat seperti itu. Dan kewajiban kami untuk melaporkan kepada Satgas, yang dari Satgas nanti yang akan membrokes, karena ini urursanya pandemik dan itu yang terjadi,” ungkap Nursakti kepada wartawan, Kamis (10/6/21).

Nursakti mengakui, berdasarkan hasil pemeriksaan rapid antigen oleh pihaknya terhadap Husni memang positif. Kemudian dari karyawan Klinik Bakti Timah Toboali menyampaikan kepada Husni, bahwa bila sudah hasil positif ini, harus dilanjut dengan pemeriksaan PCR atau polymerase chain reaction.

“Selain itu, tentu saja ada kewajiban dari kami sebagai mitra strategis bidang kesehatan pemerintah, bahwa setiap ada temuan daripada rapid antigen itu positif, itu harus segera action impossible itu dilaporkan. Kemudian dua jam kemudian, Bapak Husni ke Rumah Sakit Bakti Timah Pangkalpinang melakukan pemeriksaan rapid antigen, hasilnya negatif,” sebutnya.

Disisi lain, Nursakti menyampaikan sangat memahami bahwa Husni terkejut. Terutama, karena seolah-olah Husni merasakan menjadi dikucilkan, bahkan sempat menyebutkan dicemarkan dengan hasil pemeriksaan rapid antigen tersebut.

“Namun, kejadian seperti tu memang agak jarang-jarang. Terutama faktor alat yang biasanya dalam pemeriksaan rapid antigen itu, tingkat kekeliruan antigen itu bisa positif palsu atau negative palsu, itu antara 4 dampai 8 pesen. Kebetulan yang kemarin itu, adalah Bapak Husni, dan kebetulan juga Bapak Husni ini mau berangkat ke Jakarta dan batal,” paparnya.

Sebelumnya, Husni mengaku kecewa karena gagal berangkat ke Jakarta, gara-gara hasil tes swab antigen positif Covid-19. Padahal setelah di tes ulang sampai 2 kali, ternyata negatif.

Kepada wartawan, Rabu (9/6/21), Husni menceritakan peristiwa itu terjadi pada Minggu (6/6/21). Saat itu, dia hendak berangkat ke Jakarta bersama Darma Wisata, dan memerlukan surat keterangan bebas Covid-19 dengan melakukan tes swab antigen di Klinik Bakti Timah Toboali, hasilnya positif.

“Saya tidak merasa ada tanda-tanda gejala, sehat, dan saya langsung berangkat ke Rumah Sakit Bakti Timah Pangkalpinang untuk tes swab antigen dan menunggu selama 3 jam, hasilnya negatif,” ungkapnya dengan nada kesal.

Dengan hasil negarif tersebut, Husni keesok harinya, Senin (7/6/21) kembali ke Klinik Bakti Timah Toboali. Dia mempertanyakan mengapa hasil tes swab antigen dirinya di Klinik Bakti Timah Toboali, berbeda dengan hasil tes swab antigen di Rumah Sakit Bakti Timah Pangkalpinang.

“Kami tidak jadi berangkat ke Jakarta, surat sudah beredar kemana-mana karena saya positif Covid-19, bahkan sampai di telefon dari Tim Gugus, harus di karantina. Malah ngotot, kalau tetap berangkat kami cegat di Bandara, kami agak tersinggung,” jelasnya.

Dikatakan Husni, menurut keterangan dari pihak Klinik Bakti Timah Toboali, bahwa terjadinya hasil tes swab antigen, bisa karena alat atau karena mencolok alat antigen tidak terlalu dalam. Artinya, kalau itu negatif, itu bisa karena saat mencolok tidak terlalu dalam.

“Dan kami katakan, kalau masalah alat itu bukan urusan kami. Kami orang awam dan kami bukan orang kedokteran, kami tidak mau tahu itu. Mau benar atau tidak alat kesehatan itu, yang penting kami hasilnya kongkrit berdasarkan surat bukti otentik,” bebernya.

Karena terjadi perdebatan antara Husni dan pihak Klinik Bakti Timah Toboali, akhirnya Husni mengambil jalan tengah dengan melakukan tes PCR atau polymerase chain reaction di Rumah Sakit Bakti Timah Pangkalpinang, pada Senin (7/6/21) sore, dengan hasil negatif keluar pada hari Selasa (8/6/21).

“Nah, malah keluar nama saya dari Tim Gugus, bahwa saya pasien selesai isolasi tanggal 9 Juni dan karantina isolasi mandiri sejak tanggal 6 Juni. Artinya, saya kan dinyatakan positif Covid-19 dengan kategori orang tanpa gejala. Anehnya, pihak Klinik Bakti Timah Toboali terkejut juga, bahwa saya pernah dikarantina karena positif Covid-19,” terangnya.

“Secara sosial kita kan tetangga-tetangga tau, secara bisnis kita udah beli tiket untuk 2 penumpang pulang pergi ada negoisasi di Jakarta jadi batal. Harapan kita, Tim Gugus Covid-19 harus membuat peryataan secara tertulis, bahwa benar-benar tidak pernah kena Covid-19. Kalau dia buat surat pernah dikarantina, artinya kan pernah kena Covid-19,” pungkasnya. (Yusuf)

News Feed