Mandi Belimau, Tradisi Adat Turun Temurun

HEADLINE140 Dilihat

BANGKA — Adat mandi belimau ini tidak harus dipersoalkan karena memang sudah menjadi adat turun menurun. Hal tersebut seperti disampaikan oleh Bupati Bangka, Mulkan, S.H., M.H., Sabtu (04/05/19).

” Bagi yang mau, ya, silahkan. Bagi yang tidak mau, ya, sudah, tidak usah dilaksanakan, hal ini saja mau dipermasalahkan,” tukasnya.

Dikesempatan itu pun Pemkab Bangka memberikan apresiasi yang setinggi – tingginya untuk keluarga Depati Bahrin, yang masih terus menjaga silaturahmi dengan masyarakat sekitar makam Depati Bahrin, dan terus melanjutkan adat Mandi Belimau yang dilakukan Depati Bahrin setiap menjelang Ramadhan.

Sementara itu, keluarga Depati Bahrin, Mustar, bersama istri yang sudah sepuh pun sangat menghargai upaya Pemkab Bangka untuk terus menjaga ritual yang dilakukan leluhur mereka, sang pahlawan Depati Bahrin.

Setiap tahunnya, mereka rutin ziarah kubur bersama dengan sanak keluarga, namun tahun ini dia berkesempatab hadir dengan istrinya untuk melaksanakan ritual ziarah kubur sebelum puasa dan Mandi Belimau

“Mandi Belimau jangan disalahartikan. Mandi Belimau bertujuan untuk silaturahim. Kedua meneruskan adat istiadat dan melestarikan nilai nilai budaya kita. Tidak salah mendoakan orang yang sudah mendahulukan kita. Mandi belimau tidak perlu diperdebatkan,” kata Dia.

Ibarat sebuah pohon hanya punya batang, dahan dan ranting, jika tidak ada buah cantikkah? Kalau tidak ada adat istiadat maka bangka tidak akan ramai dikunjungi.
Pemkab bangka pun memberikan nilai setinggi tingginya untuk keluarga depati bahrin yg masih menjaga silaturahim dan adat istiadat yg dulu dilakukan Depati Bahrin menjelang puasa.

Di penghujung kegiatan diumumkan pula pemenang lomba napak tilas Depati Bahrin, dan tausiah bagi para tamu undangan dan masyarakat yang hadir dalam acara Mandi Belimau. (Rilis)

Sumber : Pemkab Bangka

Tinggalkan Balasan