oleh

Mencegah Meningkatnya Pernikahan Dini di Masa Pandemi

Oleh: Anggie Febriola
Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung

Pernikahan adalah ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan sebagai suami istri yang bertujuan untuk membentuk rumah tangga berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan dalam pernikahanseperti kesiapan usia, kesiapan mental, kesiapan finansial, kesiapansosial, kesiapanfisik, dan kesiapan lainnya karena pada prinsipnya pernikahan itu direncanakan hanya sekali seumur hidup. Oleh karena pernikahan akan dijalankan seumur hidup, maka butuh fisik dan mental yang matang. Seperti yang tertuang dalam Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan menyebutkan, “Perkawinan hanya diizinkan apabila Pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun.”

Dengan adanya aturan tersebut tentunya pemerintah telah memikirkan dampak yang terjadiketika seseorang menikah di usia yang terlalu dini. Akan tetapi yang terjadi di lingkungan masyarakat kini masih banyak orang yang menikah di usia dini tanpa memiliki wawasan tentang pernikahan.

Pernikahan bisa dikategorikan sebagai pernikahan dini bila orang tersebut berumur dibawah 19 tahun atau dikatakan masih remaja. Dampak negatif pernikahan dini lebih dominan daripada dampak positifnya, karenabisa berdampak pada kesehatan ibu, kematian bayi, kurangnya gizi pada anak, dan banyaknya anak putus sekolah sehingga bertambahnya angka pengangguran dan menurunnya kualitas SDM di Indonesia.

Dimasa pandemi saat ini, tekanan ekonomi jangka panjang menuntut para orang tua untuk menikahkan anak perempuannya demi mengurangi jumlah anak yang harus ditanggung. Tentu pernikahan dini bukan solusi yang tepat untuk menurunkan tekanan ekonomi yang dihadapi suatu keluarga.

Dalam catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, terdapat 34.000 permohonan dispensasi yang diajukan pada Januari hingga Juni 2020. Sebanyak 97% permohonan dikabulkan. Kendati usia pernikahan telah dibatasi minimal 19 tahun, namun 60% yang mengajukan adalah anak di bawah 18 tahun.

Sejumlah faktor yang melatarbelakangi pernikahan dini di masa pandemi Covid-19 dan banyaknya dampak negatif yang didapat, maka penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk menahan tingginya kasus pernikahan dini dengan berbagai cara.

Terdapat beberapa cara yang dapat mencegah terjadinya pernikahan dini seperti, memberdayakan anak dengan informasi dan keterampilan, mendidik dan memberikan wawasan kepada para orang tua untuk menciptakan lingkungan yang baik, meningkatkan kualitas pendidikan formal bagi anak, mengedukasi anak terkait kesehatan dan reproduksi, dan menawarkandukungan ekonomi kepada anak dan keluarganya.

Oleh karena itu, kita patut bersyukur atas penetapan minimal usia 19 tahun yang dibuat oleh pemerintah. Lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar dituntut untuk memiliki wawasan luas mengenai pernikahan dini agar anak-anak tetap fokus menggali potensi dirinya serta mampu mengatasi kesulitan sosial dan ekonomi. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan