oleh

Pansus Raperda Pondok Pesantren Dibentuk

BANGKA TENGAH — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bangka Tengah, membentuk panitia khusus yang akan mulai membahas rancangan peraturan daerah tentang fasilitasi pengembangan pesantren.

Raperda tersebut dibahas melalui rapat panitia khusus yang digelar di Ruang Paripurna DPRD Bangka Tengah, Selasa (20/9/2022) lalu, dengan mengajak seluruh pimpinan pondok pesantren yang ada di Bangka Tengah.

Pansus tersebut terdiri dari tujuh orang. Adalah Supriyadi selaku koordinator, Apri Panzupi selaku ketua, Edi Purwanto selaku wakil ketua, Ari Rahmawan selaku Sekretaris, serta Maryam, Herman dan Irmansyah selaku anggota.

Apri Panzupi mengatakan, Bangka Tengah memiliki sekitar 20 ponpes yang memang sebelum-sebelumnya telah sering mendapatkan dana bantuan hibah dari pemda.

“Selama ini, bantuan hibah dari Pemkab Bateng memang sudah berjalan. Tapi rencananya bantuan pengembangan itu akan dikuatkan lagi melalui Raperda tersebut,” kata Apri Kamis (21/9/2022).

Menurutnya, Raperda tersebut disusun dengan tujuan agar bantuan yang diberikan kepada ponpes berjalan lebih masif. Pasalnya, selama ini dana hibah yang diterima oleh pondok pesantren selalu berasal dari Bagian Kesra.

“Kami ingin memperluas hal itu dan membuat hal yang baru, sehingga bantuan yang diterima oleh ponpes tidak hanya sebatas dari dana hibah yang ada di Kesra,” jelasnya.

Ia menambahkan, dana hibah tersebut tidak bisa disalurkan setiap tahun atau berturut-turut, dan hanya bisa diberikan sekali dalam dua tahun.

Oleh karena itu, pihaknya ingin sesuatu yang lebih luas dengan melibatkan seluruh organisasi perangkat daerah untuk membantu mengembangkan ponpes yang ada di Bangka Tengah.

“Misalnya dari Dinas PUPR bisa membantu sarana dan prasarana seperti akses jalan dan lain sebagainya. Dinas Perumahan bisa membantu pembangunan asrama ponpes, kemudian Disperindag membantu penguatan ekonomi pesantren dan masih banyak lagi,” ungkap Apri.

Apri menyebutkan, ponpes adalah benteng untuk melindungi generasi-generasi yang akan datang dari pengaruh buruk arus globalisasi.

“Jadi enggak ada lagi istilah kalau ponpes itu pilihan terakhir orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Kalau bisa, ponpes lah yang jadi pilihan utama,” kata dia. (Dika)