oleh

Pentingnya Rekonstruksi Nasionalisme Di Era Milenial

Oleh : Elmina A Herysta
Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung

Tanggal 10 November merupakan hari peringatan atas perjuangan tokoh-tokoh tangguh yang telah memberikan dampak besar kepada Indonesia sampai detik ini. Semangat Perjuangan para pahlawan yang begitu besar untuk memperebutkan kemerdekaan merupakan bentuk kecintaan mereka terhadap bangsa Indonesia. Semangat inilah yang patut kita tanamkan, bukan sekedar untuk kegiatan seremonial saja, semangat nasionalisme harus terus melekat pada diri kita.

Nasionalisme dalam konteks dulu dibangun untuk membentuk kesadaran kolektif demi memerdekakan diri dari kolonialisme, di era sekarang ini nasionalisme harus dibangun untuk membawa Indonesia menjadi Negara yang maju dan berdaulat. Perlu ditumbuhkan solidaritas kebangsaan terutama untuk kaum milenial, sebagai generasi penerus bangsa. Kebiasaan saling menghormati keberagaman dan menjaga Negara Indonesia tetap utuh harus terus dikembangkan

Namun realitanya, jiwa nasionalisme ini semakin luntur disoroti dengan berbagai isu hoax, provokasi, SARA terus dilontarkan di social media, sehingga menyebabkan perpecahan dan menambah kepanikan dikalangan masyarakat. Bukan hanya itu, memudarnya nasionalisme juga tercermin pada aksi demonstrasi mahasiswa mengenai Omnibus Law dan revisi UU KPK yang bertajuk reformasi dikorupsi, seolah ingin mengulangi suksesnya demonstrasi besar mahasiswa 1998.

Sangat disayangkan aksi yang dilakukan sekarang sudah kurang kreatif dan tidak punya dasar yang jelas. Pasalnya, ketika ditanya banyak yang tidak mengetahui tujuan mereka melakukan aksi, dan apa yang akan dituntut dalam aksi tersebut? Apakah aksi yang dilakukan hanya untuk kebutuhan instastory social media atau memang benar ingin menyampaikan aspirasi rakyat?

Perusakan fasilitas Negara saat aksi demonstrasi juga menjadi salah satu bentuk lunturnya sikap nasionalisme, walaupun tindakan perusakan dan anarkis bukan dari kalangan mahasiswa, ada beberapa oknum yang memang sengaja memprovokasi dengan cara seperti itu. Tak heran jika mahasiswa sering diadudombakan dan dijelek-jelekkan saat turun ke jalan.

Perlu diingat, demonstrasi merupakan salah satu konsekuensi kita memilih bentuk Negara yang demokrasi. Demonstrasi bukanlah pelaku kejahatan, karena demonstrasi dijamin undang-undang dan tidak melangar HAM, tercantum dalam pasal 28 UUD 1945 yang berbunyi “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”.

Lahirnya nasionalisme bukan hanya saat Sumber Daya Alam dieksploitasi, westernisasi merusak kebudayaan dalam negeri ataupun keragaman diporak-porandakan oleh kelompokter tentu, namun kondisi yang sedang menimpa Negara Indonesia saat ini, nasionalisme sangat diharapkan kehadirannya pada diri rakyatnya. Penanganan corona di Indonesia masih belum maksimal. Seharusnya semua elemen masyarakat ataupun lembaga pemerintahan harus saling membantu dalam menangani wabah Covid-19 ini, bukan malah saling menyalahkan dan lempar tanggung jawab, karena kebanyakan parapolitisi malah memanfaatkan hal ini untuk saling menjatuhkan.

Terlepas dari bagaimana respon pemerintah dalam menanggani virus ini, setidaknya pemerintah telah berupaya untuk menanggulangi penyebaran virus agar tidak membeludak. Partisipasi warga juga sangat dibutuhkan dalam mewujudkan kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah. Sangat disayangkan, disaat Indonesia mengalami kesulitan, ada beberapa oknum yang memanfaatkan kesempatan ini terlihat dari harga masker, handsanitizer yang melambung tinggi. Saat inilah jiwa nasionalisme warga Negara Indonesia dipertanyakan kembali.

Ada apa dengan Indonesia yang sekarang? Saya selaku penulis tentu sangat kecewa akan hal ini. Sejatinya nasionalisme yang telah dicontohkan oleh tokoh-tokoh terdahulu tidak diimplementasikan dengan baik. Nasionalisme perlu disuarakan kembali untuk membawa Indonesia kearah yang lebih baik, Karena jika dibiarkan, generasi mendatang akan bersikap apatis terhadap negerinya sendiri. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan