oleh

Peran Aktif Orang Tua Dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Oleh : Nuzul Fatimah
MAHASISWA STAINU TEMANGGUNG

Pandemi merupakan wabah yang berjangkit serempak di mana-mana atau meliputi geografi yang luas. Yang artinya telah diakui menyebar luas hampir ke seluruh dunia. Masa pandemi adalah masa yang dirasa sulit untuk semua kalangan lapisan masyarakat, karena Pandemi covid -19 kini mengancam keberlangsungan setiap sektor kehidupan. Baik dari para pekerja kantoran, buruh, hingga pelajar mereka merasa seperti terkekang dan tak pernah mendapatkan angin segar. Namun salah satu dampak yang paling dirasakan dari wabah ini ialah dampak pada sektor pendidikan lebih khususnya mereka yang berada di golongan menengah kebawah. Mereka banyak yang belum bisa mengimbangi bahkan mengikuti metode perkembangan belajar pada masa pandemi ini.

Selama pandemi Covid-19, sebagian besar bahkan hampir merata sekolah di Indonesia memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sehingga mengakibatkan tanggungjawab dan beban mengajar yang tadinya bertumpu pada guru sekarang banyak yang beralih menjadi tanggungjawab orangtua. Dimana para orangtua harus mampu mendampingi dan menjelaskan berbagai mata pelajaran yang belum tentu mereka pahami. Para orangtua yang merasa kurang sabar dengan tingkat kepahaman anak ketika dijelaskan mereka tidak akan ragu untuk melakukan kekerasan terhadap anak. Baik kekerasan jasmani maupun rohani, sehingga banyak ahir-ahir ini anak yang meninggal dunia akibat dari ketidaksabaran orangtua sebagai pendidik pribadi di rumah.

Memang konsep sekolah dirumah (home-schooling) tidak pernah menjadi arus utama dalam wacana pendidikan nasional. Sedangkan pembelajaran online (online learning) juga baru mampu berjalan pada beberapa sekolah yang dirasa para siswanya mampu untuk mengikutinya. Sistem pendidikan online memerlukan disiplin pribadi untuk belajar secara mandiri serta harus ada fasilitas dan sumber saya yang mesti di sediakan. Hal tersebut selalu memicu anak menuntut lebih terhadap apa yang disediakan orangtua. Seperti kesediaan paket internet dan gadged yang mendukung belajar mereka. Sistem pembelajaran online ini sangat berpotensi membuat kesenjangan sosial ekonomi di masyarakat semakin meningkat. Orangtua yang merasa tertekan pasti akan memilih agar anaknya tidak melanjutkan sekolah dan membantu mereka bekerja supaya keadaan ekonomi mereka tidak dapat terpenuhi.

Tidak sedikit pula siswa yang dirasa dari keluarga mampu justru memanfaatkan keadaan pembelajaran secara online ini supaya terus mendapatkan paket internet dari orangtua mereka, namun digunakan untuk bermain game online bukan untuk belajar. Yang mengakibatkan orangtua merasa telah memberikan kewajibannya untuk memenuhi fasilitas belajar anak, namun ketercapaian belajar anak tetap tidak maksimal. Karena anak sudah menerima haknya namun tidak menunaikan kewajibannya, yaitu belajar dan mengikuti setiap pembelajaran yang dilakukan secara online.

Ketika orangtua kurang dalam memberikan perhatian terhadap anak mereka, maka anak akan semakin menyeleweng. Banyak tidak mengerjakan tugas baik luring maupun daring sehingga akan berakibat pada nilai saat mereka akan menghadapi kenaikan kelas. Para guru yang mengajarpun pasti aka merasakan dilema ketika akan memberikan nilai terhadap siswa mereka, karena memang kurang aktifnya siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar. Yang pada akhirnya megakibatkan siswa tertinggal di kelas.

Banyak cara lain yang sudah diterapkan oleh madrasah untuk mengantisipasi siswanya yang tidak dapat mengimbangi pembelajaran secara online seperti dengan mengadakan home visite atau kunjungan ke rumah-rumah siswa. Hal tersebut bukan hanya semata-mata untuk mengetahui keadaaan siswa namun juga untuk mengetahui keadaan orangtua siswa apakah selama di rumah mereka akan tetap mendapatkan pengawasan dari orangtua selama belajar.

Sebenarnya jika kita mau berusaha dekat degan siswa dan orangtuanya pasti akan menemukan titik permasalahan yang mereka alami sehingga kita dapat secara bersama-sama menyelesaikan permasalahan belajar siswa. Entah karena memang sifatnya sehingga kita perlu melakukan pendekatan khusus atau karena faktor keadaan ekonomi yang tidak stabil karena pandemi bahkan dapat disebabkan juga dari keadaan keluarga yang kurang harmonis sehingga mengakibatkan fokus siswa selalu buyar ketika memahami dan berfikir tentang pelajaran.

Setiap sesuatu yang kita lakukan pasti sebenarnya akan menghasilkan dampak positif dan negatif bagi diri sendiri maupun orang lain. Dampak positif yang didapat dengan adanya PJJ antara lain orangtua dapat dengan mudah memantau proses belajar anak sehingga orangtua jadi lebih mengenal potensi anaknya sendiri. Jika pada saat sekolah masih aktif dalam KBM pasti orangtua hanya akan mengetahui prestasi atau hasil pencapaian siswa hanya dengan rapot tanpa mengetahui bakat atau potensi lain yang dapat dikembangkan anak mereka karena kurangnya kedekatan dalam proses belajar anak. Orangtua akan merasa aman karena mengetahui anaknya di rumah namun jika kurang teliti terhadap gadget anak orangtua akan kecolongan karena tidak mengetahui situs apa yang mereka buka. Karena tidak jarang jika anak sudah merasa bosan denga aktivitasnya mereka akan mencari hiburan lewat medsos yang kadang mengandung konten yang kurang mendidik.

Sisi negatif dengan adanya PJJ antara lain sosialisasi anak dengan dunia luar menjadi terbatas karena mereka akan disibukkan dengan berbagai tugas yang sudah menanti, sehingga waktu bermain dan bertemu dengan teman-temannya akan sangat terbatas. Biaya yang dikeluarkan oleh orangtua pasti akan meningkat karena dengan adanya PJJ mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli kuota internet atau memasang wifi. Bagi mereka yang mempunyai orang tua yang bekerja semua pasti akan merasakan kurangnya perhatian yang mereka dapatkan karena tidak ada tempat yang nyaman untuk mengadu ketika mereka susah dalam memahami sesuatu. Orangtua pun akan sangat jarang mempunyai waktu untuk memberikan pengawasan serta memotivasi belajar anak supaya tetap semangat. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan