HEADLINEPEMPROV BABEL

Perang Ketupat Warisan Budaya Leluhur

×

Perang Ketupat Warisan Budaya Leluhur

Sebarkan artikel ini

BANGKA BARAT – Perang ketupat merupakan warisan budaya leluhur yang sudah turun temurun dilestarikan oleh masyarakat Tempilang, Kabupaten Bangka Barat.

Penjabat Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Ridwan Djamaluddin, menuturkan perang ini menaburkan kebencian, tetapi perang penuh nilai kasih sayang.

“Dengan adanya pesta adat perang ketupat yang diadakan setiap tahun kita bisa berkumpul di sini. Kita bisa bersilaturahmi satu sama lainnya dengan masyarakat dari berbagai daerah, sambil menikmati hidangan yang telah disediakan masyarakat Tempilang,” ungkap Ridwan, Minggu (12/3).

Dirinya berharap kegiatan pesta adat perang ketupat ini dapat memperkenalkan lebih luas lagi, sehingga seluruh penjuru dunia mengenal warisan budaya ini. Ridwan meyakini kegiatan ini mampu memberikan kebahagiaan bagi semua lapisan masyarakat.

“Perang kali ini perang persahabat, perang kekeluargaan, ini berbeda perang di tempat lain yang berisi perang kebencian. Perang ketupat kita ini walaupun simbolisasi perjuangan masyarakat pada masa lalu, namun ini adalah tanda bahwa kita satu keluarga besar. Perang ketupatĀ  ini kita jadikan penguat tali silaturahmi,” bebernya.

Pada kesempatan yang sama, Ridwan berpesan kepada masyarakat supaya dapat menjaga situs benteng kota sebagai warisan cagar budaya, dan terus lestarikan pesta adat perang ketupat sebagai kekayaan budaya daerah.

Sementara Wakil Bupati Bangka Barat, Bong Ming-Ming, menuturkan pesta adat perang ketupat diselenggarakan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.

“Tradisi perang ketupat ini dari dulu sudah dilaksanakan oleh masyarakat Tempilang. Budaya ini layak untuk dikembangkan, apalagi saat ini sudah ditetapkan sebagai situs sejarah warisan tak benda nasional,” tegas Wakil Bupati Babar.

Oleh sebab itu, Kementerian Hukum dan HAM RI menyerahkan sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Pesta Adat Perang Ketupat Desa Tempilang sebagai wujud perhatian pemerintah terhadap pelestarian budaya.

Dengan dijadikannya sebagai situs sejarah warisan tak benda, Bong Ming Ming mengharapkan di masa mendatang jumlah kunjungan wisatawan demostik maupun wisatawan mancanegara semakin meningkat. (*)


Sumber: Dinas Kominfo