oleh

Pernikahan Diusia Muda, Akan Mempengaruhi Kualitas Penduduk Dimasa Mendatang

Penulis: Siti Putri Dini
Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung


Ditengah pandemi covid-19, resepsi pernikahan tidak ada halangan bagi sepasang mempelai untuk melaksanakan. Banyaknya sepasang mempelai melakukan acara akad pernikahan, akan tetapi harus memenuhi persyaratan fasilitas protokol kesehatan untuk pencegah dan menanggulangi penyebaran covid-19 .

Mengenai dengan pernikahan ditengah pandemi, sekarang meningkatnya pengajuan nikah muda atau nikah dibawah umur. Pernikahan dini merupakan pernikahan yang dimana usia pasangan tersebut masih dibawah umur atau belum cukup umur. Pada tahun 2019 lalu, pemerintah telah melakukan revisi terhadap Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 terkait dengan batasan minimal usia perni menjadi 19 tahun.

Dalam catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, terdapat kurang lebih 34.000 permohonan dispensasi yang diajukan pada Januari hingga Juni 2020. Sebanyak 97% permohonan dikabulkan dan 60% yang mengajukan dispensasi pernikahan adalah anak dibawah 18 tahun. Dari Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mengatakan angka pernikahan dini atau perkawinan anak pada usia dini meningkat menjadi kurang lebih 24 ribu saat pandemi.

Berdasarkan data UNFPA ( United Nations Population Fund ), sebanyak 33.000 anak perempuan di bawah usia 18 tahun akan dipaksa menikah di seluruh dunia yang biasanya dengan laki-laki yang jauh lebih tua. Di Indonesia sendiri, satu dari sembilan anak perempuan berusia 20-24 tahun sudah menikah sebelum mencapai usia 18 tahun. Sekarang ada kurang lebih 1,2 juta kasus perkawinan anak yang menempatkan Indonesia di urutan ke-8 di dunia dari segi angka perkawinan anak secara global.

Sejumlah faktor yang menjadi pemicu dalam pesatnya angka pernikahan anak yaitu masalah perekonomian, perjodohan, adat atau kepercayaan dan terlebih lagi akibat dari pergaulan bebas, tetapi bukan itu saja yang menjadi faktor meningkatkan pernikahan dini ada juga dari keinginan pasangan itu sendiri dengan alasan menjauhi dari perzinahan.

Menurut pendapat saya, “sepanjang masa pandemi ini berlangsung, banyaknya orangtua untuk menikahi anak perempuannya dikarenakan permasalahan ekonomi, dalam arti pernikahan tersebut merupakan strategi untuk bertahan hidup (meringankan beban orangtua)”. Terlebih dengan kebijakan pemerintah menutup sekolah dan pemberlakuan belajar di rumah, hal ini menjadi salah satu pemicu maraknya pernikahan dini. aktivitas belajar di rumah juga mengakibatkan remaja memiliki kebebasan dalam bergaul di lingkungan sekitar. Hal ini terjadi bila pengawasan orangtua yang kurang ketat.

Semestinya pengadilan tersebut harus mempersulit izin dispensasi kawin, tetapi faktanya hampir 90% permohonan dispensasi perkawinan dikabulkan oleh hakim. Hakim seharusnya mempertimbangkan untuk mengadili permohonan dispensasi kawin yang mengacu pada Peraturan Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 2019.

Hal penyebab terjadinya pernikahan anak tersebut akan mempengaruhi naiknya jumlah penduduk di Indonesia yang tidak terkendali, tingginya angka pernikahan anak di Indonesia dinilai akan mengancam bonus demografi yang akan terjadi di negeri ini kedepannya.

Apabila pernikahan dini ini terus meningkat, maka akan mempengaruhi kualitas bonus demograf atau kepadatan penduduk. Bonus demografi dapat menjadi anugerah bagi bangsa Indonesia, dengan syarat pemerintah harus menyiapkan generasi muda yang berkualitas melalui pendidikan, kesehatan, penyediaan lapangan kerja, dan investasi. Jika terjadinya angka beban ketergantungan mencapai kisaran 40%-50%, artinya dalam satu keluarga dua orang menanggung 1 orang. Bonus demografi juga diperkirakan akan terjadi di pada tahun 2020-2030. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan