oleh

PT Timah Cari Cadangan Timah Baru

JAKARTA — Direktur Keuangan Timah, Wibisono, mengatakan perusahaan saat ini terus melakukan eksplorasi untuk mencari cadangan timah baru yang diprediksi memiliki potensi cukup besar.

“Potensi cadangan timah di Bangka Belitung masih besar, terutama untuk tipe primer yang banyak ditemukan di berbagai lokasi baru yang terus dilakukan eksplorasinya. Cadangan baru ini akan menjadi harapan akan keberlangsungan bisnis pertimahan di masa depan,” kata dia dalam keterangannya Rabu (4/11) kemarin, dikutip dari cnbcindonesia.com.

Masih mengutip dari cnbcindonesia.com, perusahaan pertambangan PT Timah Tbk membukukan kerugian yang lebih besar pada akhir kuartal ketiga tahun ini atau per September senilai Rp 255,15 miliar.

Jumlah rugi tersebut naik 45 persen dari rugi bersih yang dicatatkan perusahaan pada periode yang sama tahun lalu, senilai Rp 175,78 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, kerugian ini menyebabkan nilai kerugian per saham terus bertambah menjadi Rp 34 dari sebelumnya Rp 25.

Meningkatnya kerugian ini disebabkan karena pendapatan usaha turun 18,42 persen secara year on year, menjadi senilai Rp 11,87 triliun dari pendapatan usaha di akhir September tahun lalu, senilai Rp 14,55 triliun.

Beban pokok pendapatan sepanjang sembilan bulan tahun ini mencapai Rp 11,11 triliun, turun dari posisi Rp 13,53 triliun di periode yang sama tahun lalu.

Meski pendapatan menurun, namun beban penjualan TINS yang masuk grup MIND ID ini, justru meningkat menjadi Rp 137,13 miliar dari posisi Rp 134,84 miliar.

Beban keuangan juga naik menjadi Rp 533,03 miliar, dari akhir September 2019 yang senilai Rp 525,11 miliar.

Perusahaan juga mengantongi rugi neto entitas asosiasi yang meningkat menjadi Rp 11,08 miliar dari sebelumnya Rp 10,51 miliar.

Selain itu, tahun ini tidak lagi terdapat keuntungan atas revaluasi properti investasi, sedangkan tahun lalu terdapat keuntungan sebesar Rp 126,77 miliar di pos ini.

Dalam keterangan resminya, perusahaan menyebutkan bahwa produksi bijih timah sepanjang tahun hingga akhir September lalu turun 47,44 persen menjadi 34.592 ton dari posisi 65.819 ton di periode yang sama tahun lalu.

Produksi logam timah pada kuartal III-2020 sebesar 37.588 ton atau turun sebesar 35,37 persen dari posisi 58.157 ton.

Tak hanya produksi yang turun, namun volume penjualan juga turun turun sebesar 9,49 persen menjadi 45.548 ton dari 50.326 ton.

Harga jual, sayangnya juga tak berpihak sepanjang tahun ini. Terjadi penurunan harga jual sebesar 21,73 persen dengan rata-rata harga jual sebesar US$ 16.832 dari sebelumnya US$ 19.083.

Perusahaan menyebutkan pada periode Juli-September dibandingkan tiga bulan sebelumnya, terjadi perbaikan Gross Profit Margin (GPM) sebesar 6,40 persen dari sebelumnya 3,13 persen. Net Profit Margin (NPM) meningkat dari sebelumnya -4,89 persen menjadi -2,15 persen.

Selain itu, EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) pada kuartal III-2020 sebesar Rp 850,36 miliar meningkat jika dibandingkan kuartal II-2020 yang sebesar Rp 338,72 miliar.

Dari sisi keuangan, tercatat cashflow operasi sebesar Rp 4,84 triliun, naik dibandingkan kuartal II-2020 sebesar Rp 3,17 triliun.

Posisi utang bank jangka pendek sebesar Rp 4,74 triliun, turun sebesar 46,10 persen dari posisi akhir tahun lalu yang sebesar Rp 8,79 triliun. Sehingga liabilitas jangka pendek turun menjadi Rp 8,13 triliun dari posisi akhir 2019 yang senilai Rp 11,95 triliun.

Namun, posisi utang jangka panjang naik menjadi Rp 3,69 triliun dari posisi akhir tahun lalu yang senilai Rp 3,14 triliun. Terjadi peningkatan menjadi Rp 452,73 miliar pada pos pinjaman dari sebelumnya senilai Rp 8,83 miliar.

Namun sayangnya, terjadi penurunan kas dan setara kas menjadi senilai Rp 808,53 miliar pada September lalu dari posisi Desember 2019 yang senilai Rp 1,59 triliun. Sehingga pada akhir periode kuartal III-2019, nilai aset lancar turun menjadi Rp 8,14 triliun dari Rp 12,30 triliun di akhir 2019.

Namun total aset turun menjadi Rp 16,75 triliun dari Rp 20,36 triliun di akhir tahun lalu.

Perusahaan menyebutkan permintaan logam timah pada kuartal pertama tahun ini, naik 8,07 persen menjadi 85,7 kiloton dari kuartal sebelumnya yang sebesar 79,3 kiloton.

Namun defisit logam timah pada kuartal III-2020 menyebabkan harga logam timah terus membaik, dan berpotensi kembali ke harga semula pada awal tahun 2021.

Sebelumnya, pada Februari silam, Menteri BUMN Erick Thohir sudah melakukan perombakan jajaran direksi dan komisaris perusahaan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 10 Februari 2020. (*)


Link sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20201104113927-17-199193/pak-erick-rugi-pt-timah-q3-naik-45-jadi-rp-255-m

Komentar

Tinggalkan Balasan