oleh

Ratusan Massa Gelar Aksi Solidaritas

BANGKA — Ratusan massa yang berasal dari masyarakat Nelayan Matras, Nelayan Air Antu, Nelayan Tuing, dan Nelayan Desa Rebo, menggelar aksi solidaritas di Mapolres Bangka, Jum’at (13/03/2020) pagi.

Massa datang menggunakan kendaraan dua unit mobil Dumtruck, satu unit mobil Pick up, tiga unit mobil Minibus, dan sekitar 30 unit sepeda motor.

Kedatangan massa aksi solidaritas itu diterima oleh Kabag Ops Polres Bangka, KOMPOL Faisal Fatsey, didampingi Kasat Sabhara, Kasat Intelkam, Kasat Polair, Kasat Reskrim, Kasat Narkoba, Kapolsek Sungailiat, serta Kapolsek Pemali.

Dalam orasinya, massa menolak proses penyidikan terhadap delapan orang terlapor, dalam perkara tindak pidana dugaan melakukan kekerasan secara bersama-sama terhadap orang, sebagaimana dimaksud dalam pasal 170 KUHPidana.

Kedelapan orang terlapor yang akan dilakukan pemeriksaan oleh Penyidik Satuan Reskrim Polres Bangka, yaitu Rohim, Septiadi Saputra, Riesta Marwan, Abdul Kadir, Rudiyanto, Achmad Muslimin, Dul Amit, dan Arifin, semuanya warga Kelurahan Matras.

Rencananya, hari ini penyidik Satuan Reskrim Polres Bangka akan meminta keterangan dari delapan orang terlapor. Untuk itu, penyidik sudah melayangkan surat panggilan terhadap delapan orang terlapor tersebut.

Namun rencana pemeriksaan itu tersebar luas, sehingga massa secara spontanitas bergerak mengawal proses hukum terhadap kedelapan rekannya tersebut.

Massa memaksa masuk ke dalam Mako Polres Bangka, dengan maksud untuk menyampaikan orasi. Sehingga Kabag Ops Polres Bangka mengambil langkah, agar perwakilan nelayan saja yang bisa masuk, demi menjaga situasi tetap kondusif.

Namun massa memaksa masuk, sehingga diarahkan untuk berkumpul di Aula Mako Polres Bangka. Sejumlah perwakilan massapun akhirnya dibolehkan menyampaikan aspirasinya.

Juliadi, tokoh Nelayan Air Antu, dalam orasinya menyampaikan, bahwa pihak Kepolisian jangan hanya memproses sepihak. Dikatakannya, sebelum adanya kejadian pemukulan, ada provokasi dari pihak pro Kapal Isap Produksi dengan mengacung-acungkan parang kepada massa yang kontra

“Jika Polisi tetap memaksa, maka kami semua siap untuk diperiksa, bukan hanya delapan orang terlapor yang dilakukan pemeriksaan,” kata Juliadi.

Orator lainya, Ngikiw, dalam orasinya menyampaikan, bahwa nelayan yang kontra Kapal Isap Produksi sudah melakukan perdamaian dengan nelayan pro KIP.

“Kami meminta pihak Kepolisian untuk tidak melakukan penangkapan. Jika ada penangkapan terhadap massa kontra Kapal Isap Produksi, maka kita semua ikut dihukum semua,” tegas Ngikiw.

Kabag Ops Polres Bangka, AKP Faisal Fatsey, mengimbau agar massa tidak mengganggu arus lalu lintas di jalan. Selain itu, diharapkan massa dapat menghargai proses hukum yang berjalan.

Usai diberi arahan oleh Kabag Ops, kemudian massa keluar dari Mapolres Bangka, dan berkumpul di depan Gerbang Mako Polres Bangka. Di situ, massa kemudian berdiskusi dengan pengurus Lembaga Kelautan Dan Perikanan Indonesia UPT Sungailiat.

Pengurus LKPI UPT Sungailiat menyarankan kepada massa, untuk melakukan upaya perdamaian baik secara kekeluargaan maupun secara hukum dengan pihak pelapor.

Mendengar saran dari LKPI UPT Sungailiat tersebut, massa sepakat membubarkan diri, dan akan melakukan upaya perdamaian kepada pihak pelapor.

Sekira pukul 15.00 WIB, massa membubarkan diri. Hingga selesai aksi, situasi berjalan aman dan kondusif, dengan pengamanan oleh personil Polres Bangka dan Polsek Jajaran.

Terpisah, Kapolres Bangka AKBP Aris Sulistyono mengatakan, bahwa Polres Bangka hanya menindaklanjuti aduan pihak pelapor sesuai Standar Operasional Prosedur atau SOP.

“Polres Bangka menindaklanjuti delik aduan sesuai SOP, namun ada penolakan, untuk tetap mengharapkan perdamaian,” demikian AKBP Aris Sulistyono. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan