oleh

Selama Pandemi, Tidak Ada Karyawan PT BAA Dirumahkan Atau PHK, Malah Nambah

BANGKA — Hampir setahun pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia. Banyak perusahaan dan industri skala besar, menangah, maupun kecil, merumahkan pekerjanya. Bahkan, PHK besar-besaran juga sudah terjadi di sejumlah daerah dan industri.

Namun kondisi itu tidak terjadi di PT Bangka Asindo Agri, pabrik Tapioka di Kelurahan Kenanga, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka.

Humas PT BAA, Sulaiman, mengungkapkan jumlah tenaga kerja di pabrik Tapioka itu saat ini lebih dari 100 orang. Terdiri dari 60-an orang tenaga kerja atau karyawan tetap, 30-an orang Freelance, dan ditambah juru parkir.

” Selama pandemi Covid-19, tidak ada pekerja yang dirumahkan atau di PHK, pekerja kami malah nambah. Sebelumnya karyawan tetap dan pekerja lepas itu sekitar 60-an orang, sekarang sudah lebih 100 orang, dan sekitar 60 persennya merupakan warga Kenanga,” ungkap Sulaiman, Rabu (10/2) siang.

Hingga saat ini, lanjut Sulaiman, PT BAA belum menerima insentif dari pemerintah, seperti keringanan pajak atau bentuk insentif lainnya.

“Entah kami belum tahu atau belum menerima? Tapi kayaknya belum ada terima insentif dari pemerintah, baik itu keringanan pajak atau yang lainnya,” imbuhnya.

Sulaiman membeberkan, harga beli ubi casesa di pabrik kisaran Rp 925 per kilogram. Dalam sehari, pabrik PT BAA menerima sekitar 100-200 ton. Ubi casesa itu dibeli dari petani yang ada di seputaran Pulau Bangka.

“Sekarang kita bayar ke petani Rp 925 per kilogram, terima di sini (pabrik). Kalau kondisi normal, sehari bisa masuk 100-200 ton,” kata dia.

Masih kata Sulaiman, limbah sisa pengolahan ubi casesa menjadi tepung Tapioka disebut onggok. Ternyata, onggok ini bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan lain-lain, termasuk bahan olahan makanan. Sayangnya, masyarakat kurang kreatif, sehingga tidak jeli melihat peluang besar tersebut.

“Kalau masyarakat kita lebih kreatif, sebenarnya onggok itu tidak hanya untuk pakan ternak, tapi sebenarnya bisa diolah lagi menjadi bahan makanan. Harganya murah, tentu biaya produksinya lebih kecil, dan keuntungannya bisa lebih besar. Kalau masyarakat jeli melihat peluang itu,” bebernya.

Dari bahan tepung Tapioka produksi sendiri, PT BAA juga sudah mengolah berbagai produk turunan. Namun di antara produk tersebut, baru produk Sago Mee yang diproduksi secara massal, dan sudah dipasarkan.

“Ada beberapa produk turunan, tapi yang sudah diproduksi secara massal baru Sago Mee,” ujarnya.

Saat ini, kata Sulaiman, tidak hanya mengelola pabrik tepung Tapioka, PT BAA kini punya peternakan sapi, dan budidaya ikan Nila.

“Kita sekarang punya peternakan sapi, ada juga budidaya ikan Nila. Itu dikelola masyarakat sini (Kenanga), untuk bantu-bantu ekonomi masyarakat sekitar pabrik,” imbuhnya.

Tidak hanya karyawan dan pekerja, kehadiran PT BAA juga memberikan manfaat lain bagi warga sekitar. Ada dua warung di dalam lingkungan pabrik, dan sekitar empat warung lagi di luar pabrik.

“Bapak bisa lihat multiplayer efek dari adanya pabrik PT BAA ini. Di depan sana, ada dua warung yang di dalam lingkungan pabrik. Di luar lingkungan pabrik ada empat warung. Artinya, adanya PT BAA ini memberikan dampak ekonomi secara positif. Tidak hanya bagi pekerja, tapi yang tidak bekerja di pabrik pun ikut merasakan manfaatnya,” demikian Sulaiman. (Romlan)

News Feed