oleh

Sumpah Pemuda dan Krisis Moral Generasi Millenial

Oleh : Hafiza Gafikru

( Mahasiswa FH UBB )

Pada tahun 1928, tepatnya pada tanggal 28 oktober terjadi peristiwa penting yang menjadi tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul, mendeklarasikan persatuan melalui sebuah ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan yang dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Sumpah pemuda ini lahir, melalui Kongres pemuda ke-2 pada tanggal 27 dan 28 oktober di Batavia yang sekarang dikenal dengan Jakarta. Pada kongres ini diikuti oleh lebih banyak peserta dari kongres pertama, yaitu dihadiri oleh 750 orang dari masing masing perwakilan organisasi PPPI ( Perhimpunan Pelajar – Pelajar Indonesia ), Jong Java, Jong Islamieten Bond, Jong Sumateranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Pemuda Kaum Betawi dan lainnya.

Makna yang terkandung dari peristiwa bersejarah ini adalah mengajarkan terkait nilai – nilai persatuan bangsa. Semangat membara para pemuda yang mencetuskan Sumpah Pemuda saat itu dinilai berpengaruh dapat menambah energi positif untuk generasi penerusnya. Sebagai pemuda intelektual, Sumpah Pemuda ini seharusnya bisa dijadikan sebagai inspirasi untuk membawa negara ini ke arah perubahan yang lebih baik, bukan justru membuat menjadi hilangnya harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Melihat kenyataan yang terjadi saat ini, era millenial yang semakin modern dan semakin luas ini menyebabkan pengaruh besar terhadap masyarakat, khususnya anak muda. Salah satu faktor yang mempengaruhi anak muda saat ini adalah pengaruh teknologi yang kian canggih, hal ini merupakan tantangan bagi generasi muda, yang dahulunya tantangan bagi para pemuda bersifat kolonialisme kini beranjak menjadi kompetisi global. Kini pemuda tidak harus lagi perang melawan para penjajah menggunakan bambu runcing ataupun senjata mesin melainkan mereka harus mampu melawan hawa nafsunya untuk menghadapi cepatnya arus perkembangan zaman.

Kemudian faktor – faktor lainnya yang mempengaruhi generasi millenial dalam bertingkah laku adalah lingkungan dan kebudayaan. Pada saat sebelum hadirnya internet dan teknologi informasi seperti smartphone, perilaku generasi millenial di pengaruhi oleh lingkungan sekitarnya seperti keluarga, tetangga, sekolah dan pergaulan dengan teman-temannya serta kebudayaan yang terdapat di daerahnya. Hal ini tentunya masih dapat terawasi oleh orang tuanya karena masih dalam ruang lingkup yang sempit. Setelah munculnya internet serta gadget canggih yang dapat mengakses berbagai macam informasi dengan cepat, kecanggihan teknologi ini pun menuai efek negatif yang ikut serta dalam berkurangnya moral generasi muda pada saat ini.

Saat ini Indonesia mengalami krisis moral yang didominasi oleh generasi millenial, berbagai kesalahan moral melanda anak muda mulai dari kasus kenakalan remaja, anak SD yang dewasa sebelum waktunya, hingga masalah berat kasus asusila dan pembunuhan yang dilakukan oleh para pemuda. Khususnya dalam bermedia sosial, kesalahan yang sering terjadi adalah mereka rela melakukan hal apapun hanya ingin mendapatkan popularitas yang bersifat sementara, sedangkan mereka tidak tahu bahwa peristiwa ini merusak moral serta merendahkan diri mereka sendiri. Tentunya, fakta ini sangat miris dan sangat disayangkan mengingat seakan sudah biasa hal tersebut terjadi karena hampir setiap hari berita ini terus bermunculan di media – media.

Untuk itu, moral para pemuda sekarang sangatlah perlu untuk dibenahi dan diperbaiki. Ini juga menjadi pekerjan rumah dan peran penting semua pihak untuk saling bersinergi seperti pemerintah, masyarakat, tokoh agama, keluarga dan lain-lain.

Disini penulis mengajak para pemuda tentunya sebagai generasi millenial baik pelajar maupun mahasiswa, untuk kembali memaknai eksistensi dari nilai – nilai dan makna yang terkandung dalam Sumpah Pemuda, bukan hanya memaknai bahwa Sumpah Pemuda ini hanyalah sebuah naskah teks yang berisi sebuah ikrar melainkan sebuah nilai perjuangan, nilai persatuan pemuda saat itu hanya untuk menegakkan kemerdekaan negara Indonesia dari penjajahan negara asing. Sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai generasi penerus bangsa, sebagai agent of change untuk menentukan nasib dan mewujudkan cita- cita bangsa dan negara ini karena pemuda adalah aktor dalam pembangunan.

Berkaca dari sejarah perjuangan para pemuda kala itu, maka sebagai generasi penerus bangsa ini harus menghargai pengorbanan dan perjuangan mereka. Menjaga agar Indonesia bisa menjadi negara yang mandiri. Menjaga kedaulatan, harkat dan martabat bangsa. Menjaga Indonesia agar tak dikuasai oleh negara asing. Serta hal yang tak kalah penting yaitu menjaga semangat sekaligus idealisme pemuda.

Oleh karena itu, peringatan hari Sumpah Pemuda ini bukan sekedar mengingat bahwa terjadinya peristiwa bersejarah, melainkan kita jadikan momentum ini untuk bangkit bersama, bangkit melawan pengaruh negatif yang menjangkit terhadap generasi muda. Bangkit untuk lebih kreatif, inovatif dan bangkit berkonstribusi aktif bagi bangsa dan negara.

Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2020 (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan