oleh

Surat Terbuka Bean Saputra Untuk Bupati Bangka

 13 total views

BANGKA — Pemilik akun media sosial Facebook atas nama Bean Saputra, mengirim surat terbuka yang ditujukan kepada Bupati Bangka, Mulkan.

Dalam surat terbuka tersebut, Bean Saputra menyampaikan aspirasinya sebagai pemuda usia produktif, sekaligus menyampaikan kritik terkait penerimaan tenaga honorer kontrak di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bangka.

Berikut ini isi suratnya :

Surat Terbuka Untuk Bapak Bupati Bangka, Yang Mulia Terhormat, Mulkan, di Singgasana Kekuasaan.

Assalamualaikum, Wr. Wb

Salam santun dari saya sebagai pemuda, dan rakyat kecil jelata, kepada bapak Bupati. Izin memperkenalkan diri, nama saya Bean, pak. Saya cuma salah satu dari sekian banyak anak muda Bangka, yang ingin menyuarakan aspirasi saya kepada bapak selaku, yang katanya, pemimpin kami. Pemimpin rakyat. Pemimpin para pemuda. Yang tentunya mesti menjadi tauladan bagi kami selaku generasi penerus.

Pak, bupati, saya tahu bapak tidak kenal dengan saya. Tapi izinkan saya mencurahkan keluh-kesah saya, aspirasi saya lewat surat terbuka ini kepada bapak. Pak bupati, saat saya dan teman-teman mendengar soal perekrutan tenaga kontrak di pemerintahan Bangka, jujur kami senang sekali mendengarnya. Kami pikir kalau bapak sudah menepati janji bapak yang ingin membuka lowongan kerja sebesar-besarnya kepada para anak muda Bangka, yang notabene masih banyak yang menganggur. Terutama bagi kawan-kawan saya yang hari ini juga masih banyak yang menganggur, pak. Tapi harapan kami itupun ternyata harus pupus ketika kami tahu kalau rekrutmen tenaga kontrak itu bersifat tertutup, alias cuma untuk orang-orang tertentu saja, yang pastinya bukan untuk rakyat biasa dan miskin seperti kami ini.

Kami mempertanyakan, kenapa lowongan tenaga kontrak itu tidak bapak buka untuk umum, pak?

Kenapa hanya orang-orang tertentu saja yang boleh bekerja di pemerintahan bapak?

Apakah karena kami bukan bagian dari lingkaran politik bapak, jadi kami tak layak mendapatkan kesempatan bersaing secara fair dengan mereka-mereka yang hari ini sudah menjadi tenaga kontrak dengan gaji yang diambil dari duit kami, duit rakyat, pak?

Kami sangat senang sekali ketika ada orang-orang kritis seperti GUM yang turut mewakili jeritan aspirasi kami, pak. Yang meminta keadilan dari bapak selaku pemimpin kami, agar bapak dapat berlaku adil dalam membuka lowongan tenaga kontrak tersebut, pak. Kami dukung perjuangan mereka, agar kabupaten Bangka ini benar-benar bisa berlaku setara sesuai slogan Bangka Setara yang seringkali bapak gembor-gemborkan itu. Tapi faktanya, malah terbalik. Setara hanya diperuntukan kepada mereka yang dekat dengan bapak saja, bukan?

Kami mohon bapak pertimbangkan kembali, dan evaluasi tenaga kontrak itu, pak. Kami sebagai rakyat kecil, sebagai anak muda, meminta keadilan dari bapak selaku pemimpin kami, agar kami mendapat perlakuan yang setara juga untuk mendapatkan lowongan kerja, sesuai slogan bapak, Bangka Setara.

Semoga surat yang mewakili suara-suara senyap, dan jeritan aspirasi kami ini sampai kepada bapak, dan bapak tanggapi. Kami sudah mendengar bagaimana susahnya hidup bapak dulu ketika belum menjadi siapa-siapa, seperti sekarang ini. Jadi tolong posisikan kami sebagaimana bapak dulu yang masih menjadi rakyat kecil seperti kami ini, pak. Tolong dengar jeritan kami. Aspirasi kami. Tapi kalau bapak masih tetap cuek dan tidak mau mendengar keluh-kesah kami ini, apa boleh buat, pak. Kami tahu, bapak yang menjadi penguasa hari ini. Tapi ingat, pak. Manusia tidak pernah selalu berada di atas. Suatu saat kelak, Allah akan menegur bapak. Kami yakin itu. Kami yakin Allah akan mendengar jeritan rakyat kecil seperti kami ini. Kami mungkin tidak punya kuasa apapun. Tapi kami masih punya doa. Dengan doa itulah kami akan menyadarkan bapak.

Mungkin hanya ini saja, pak, yang dapat saya suarakan. Terima kasih, pak, kalau bapak mau mendengar dan menanggapi. Tapi kalaupun tidak, saya bisa berbuat apa? Saya cuma orang kecil. Orang biasa yang cuma mewakili suara rakyat miskin, suara anak muda Bangka. Semoga saja keluh-kesah kami ini bapak dengar meski hanya sekali.

Bean
Sungailiat, 15 Juli 2019

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed