oleh

Terdakwa Heran, Bakar Sisa Kayu Bulan Agustus, Kebakaran Bulan September, Padipun Sudah Tumbuh Sejengkal

BANGKA — Meski tangan terborgol dan mengenakan rompi tahanan bernomor 23, Herman bin Idris, 40 Tahun tampak tenang ketika memasuki Ruang Sidang I, Pengadilan Negeri Kelas II Sungailiat, Senin (10/03/2020).

Seluruh penjuru ruangan ia sapu dengan sorot matanya yang tajam sembari tersenyum. “Abang sehat?” kata salah seorang Penasehat Hukumnya.

Dia pun mengangguk sembari mengucapkan rasa syukur, “Alhamdulillah,” katanya pendek.

Herman adalah buruh tani kecil. Selain menumpang bertanam cabai di areal lahan yang kini disengketakan, ia juga mendapat upah dari membantu mengerjakan apa saja yang diminta warga. Seperti membersihkan kebus, menebas belukan dan pekerjaan kasar lainnya.

Atas jasanya tersebut dia beroleh upah Rp120 ribu sehari. “Di selang (sela-red) mengerjakan kebun cabe saya, saya juga membantu mengerjakan kebun Dul (Abdullah-red).”

Herman tidak menyangka bakal duduk dikursi terdakwa dalam kasus Karhutla. Dia pun tidak mengerti soal hukum dan status lahan yang digarap warga di areal yang kini disengketakan.

“Saya hanya tahunya warga bekebon (berkebun-red) di sane (sana-red) lah (sudah-red) lama,” paparnya dengan dialek khas Bangka.

Herman pun hingga kini tidak mengerti mengapa dirinya bisa menjadi terdakwa pembakaran hutan.

Herman tidak menampik sekitar akhir Bulan Agustus 2020 membakar sejumlah tumpukan kayu dilahan yang sudah dibersihkan. Itu pun dengan waktu yang diperhitungkan dan pengawasan secara ketat.

“Ketika lahan sudah dibersihkan, kayu ditumpuk menjadi beberapa tumpukan. Sekitar jam 16.30 WIB dibakar. Sebelum membakar, disiapkan mesin robin (pompa air-red) dan selang,” kata Herman.

Dia pun memastikan api akibat pembakaran tersebut tidak menyebar. Selain dijaga hingga sekitar Pukul 20.00 Wib. Sisa pembakaran tersebut disemprot dengan air.
“Jadi benar-bika masyarakat membuka lahan,” paparnya.

Herman juga menjelaskan di dalam persidangan tersebut bahwa pembakaran yang dilakukan atas inisiatif pribadinya. “Biasanya memang begitu sebelum bertanam padi atau ketika masyarakat membuka lahan,” katanya.

Sementara sebagaimana diketahui bahwa kasus kebakaran hutan yang dipersoalkan terjadi pada Senin 23 September 2019. Dan berada sekitar enam ratus meter dari lokasi lahan yang dikerjakan Herman.

Herman sendiri mengakui tidak mengetahui asal muasal dan penyebab terjadinya kebakaran hutan tersebut.

Bahkan ketika sejumlah aparat datang dilahan yang sekitar sebulan lalunya sejumlah tumpukan kayu dibakar sudah tumbuh batang badi. Sehingga banyak di injak oleh sejumlah pihak yang datang.

“Sudah tumbuh padi sejengkal,” katanya sembari membentangkan jari kelingking dan jempol tangan kanan di hadapan Majelis Hakim.

Sementara ketika Ketua Majelis Hakim Fatimah, SH.MH menanyakan keberadaan terdakwa ketika ada interograsi oleh salah seorang saksi Cecep (dari Polsek setempat-red).

Herman menegaskan dia tidak pernah lari atau tidak berada ditempat. “Saya ada bu (Hakim-red). Hanya saja Pak Cecep mencatat nama saya, setelah itu dia (Cecep-red) yang pergi,” katanya. (Fakhruddin)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed