oleh

Terdakwa Karhutla Sebut Lahan Air Anyir Digarap Sejak Zaman Jepang

BANGKA — Sidang kasus pembakaran hutan di Desa Air Anyir, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, dengan terdakwa Abdullah dan Herman kembali dilanjutkan di Ruang Sidang I Pengadilan Negeri Kelas 1B Sungailiat, Senin (10/03/2020), dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa.

Sidang dipimpin Hakim Ketua Fatimah, SH. MH bersama Hakim Anggota, dihadiri Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Bangka, dan Pensehat Hukum para terdakwa.

Ketika ditanya apakah Herman bersedia menjadi saksi bagi terdakwa Abdullah? dengan tegas dia menjawab tidak bersedia. Begitu juga sebaliknya Abdullah tidak bersedia menjadi saksi bagi Herman. Keduanya masih memiliki hubungan keluarga. Herman adalah kakak istri (ipar) Abdullah.

Abdullah mengungkapkan areal perkebunan yang ia kelola bersama masyarakat sekitar adalah lahan yang dikelola secara turun temurun.

“Bahkan cerita dari orangtua sejak dari zaman penjajah Jepang masyarakat sudah berkebun. Jadi sejak zaman nenek moyang kami, termasuk saya juga mengelola lahan dari orangtua,” katanya.

Areal tersebut, kata Abdullah sejak dahulu kala pula ditanam padi. Dan hampir setiap tahun masyarakat sekitar bertanam padi.

“Dulu ada program cetak sawah dan irigasi dari pemerintah. Saya juga ikut,” kata Abdullah seraya menambahkan, lahan tersebut digarap secara terus menerus.

“Hanya saja, setelah padi dipanen, selanjutnya ada yang langsung digarap untuk tamanan lainnya dan ada pula yang dibiarkan sampai musim bertanam padi tahun berikutnya. Sebab, mengandalkan tadah hujan,” paparnya.

Maka, lanjutnya, ketika ada program pemerintah terkait program peningkatan pangan tersebut, masyarakat Air Anyir menyambut gembira.

Dapat bantuan bibit padi dari pemerintah.” imbuhnya.

Abdullah menuturkan, ketika panen padi awal Tahun 2019, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung datang ikut panen padi bersama sejumlah pejabat Provinsi Babel dan pejabat lainnya dari Pemerintah Kabupaten Bangka.

Dari penelusuran kabarbangka.com, sebagaimana dikutip humas.babelprov.go.id Gubernur Kepulauan Bangka Belitung melakukan panen padi di Desa Air Anyir di lahan yang dikelola Abdullah dan masyarakat, Senin (14/1/2019).

Gubernur juga menyarankan, selain padi, agar masyarakat memeroleh keuntungan dari lahan tersebut, sebaiknya ditanam pula sorgum.

Selain artikel tentang panen padi, dimuat pula foto gubernur sedang memasukkan padi yang baru dipotong kedalam mesin perontok.

Tak hanya sekali, pada Rabu (20/11/2019) petang, Gubernur bersama sejumlah pejabat Provinsi Bangka Belitung melakukan penanaman Sorgum organik di areal lahan tersebut.

Gubernur menjelaskan pemanfaatan lahan tersebut adalah dengan pola kemitraan karena menggunakan Hutan Produksi. Sehingga harus mengurus izin dan MoU -nya.

Abdullah mengakatn, sejak itu masyarakat semakin bersemangat untuk mensukseskan penanaman padi agar hasilnya lebih maksimal. Atas saran gubernur pula agar tidak ada persoalan terkait penggunaan lahan tersebut diminta mengajukan perizinan.

“Atas kesepakatan masyarakat dan Pemerintah Desa Air Anyir kami urus perizinannya. Kami juga tidak ingin ada persoalan dikemudian hari,” kata Abdullah. (Fakhruddin)

Komentar

Tinggalkan Balasan