oleh

Tetap Pertahankan Tradisi Meski dalam Hantaman Pandemi

Oleh : Zakiyatul Mukaromah
Mahasiswa STAINU Temanggung

Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW , atau biasa kita kenal dengan Maulid Nabi merupakan salah satu hari besar bagi umat Islam. Dalam kalender Hijriyah Maulid Nabi jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal. Sebagai hari lahir Nabi SAW, yang merupakan Nabi Panutan mereka, umat Islam selalu menyambut hari Maulid Nabi dengan suka cita.

Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti lahir. Di Indonesia perayaan Maulid Nabi, merupakan tradisi yang sudah berkembang jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Tradisi ini selalu berkembang dan turun temurun dilestarikan oleh masyarakat Indonesia. secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan bagi Nabi mereka yaitu Nabi Muhammad SAW.

Pada taun ini perayaan Maulid Nabi sedikit berbeda. Sejak dikonfirmasi pada awal bulan maret 2020 lalu, bahwa virus Covid 19 telah masuk ke Indonesia. Karena laju penularan virus yang sangat cepat, maka dalam sejenak angka positif orang terinfeksi virus covid 19 meningkat. Sejak inilah maka pemerintah menetapkan aturan wajib menerapkan 3M, yaitu Mencuci tangan, Memakai masker, dan menjaga jarak.

Maulid Nabi pada tahun ini jatuh pada hari kamis tanggal 29 Oktober 2020. Meski masih dalam keadaan pandemi, beberapa masyarakat Indonesia tetap melaksanakan peringatan dengan tradisinya masing-masing.


Maulid Nabi dan Tradisi

Dalam perayaan Maulid Nabi, selalu diadakan perayaan yang cukup meriah di berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari tablig akbar, ceramah, shalawat, hingga kegiatan keagamaan lainya . Masing-masing daerah pasti memiliki tradisinya masing-masing dalam merayakan maulid nabi.

Tradisi merupakan suatu hal yang telah dilakukan sejak lama dan sudah menajdi bagian dari kehidupan suatau kelompok masyarakat. Terlebih di Indonesia sendiri, berbagai tradisi di masyarakat masih dilestarikan dan tentunya memiliki filosofinya masing-masing. Contoh tradisi saat perayaan Maulid Nabi, setiap daerah berbeda memiliki tradisinya dengan masing-masing kearifan lokalnya.

Mulai dari tanah Sulawesi , terdapat tradisi Maudu Lompa di Sulawesi Selatan. dirangkum dari laman NU Online, Maudu Lompa berarti Maulid Besar atu lebih dikenal sebagai puncak peringatan Maulid Nabi. Dalam perayaan ini warga ,mengarak replika perahu pinisi yang dihias beraneka ragam kain sarung dn dipamerkan ditepi sungai. Secara historis, perayaan maulu lompa melambangkang sejarah masuknya agama Islam di wilayah selatan pulau Sulawesi yang dibawa oleh pedagang pedagang Arab.

Di Banyuwangi sendiri, dalam perayaan Maulid Nabi terdapat tradisi Muludan Endong-Endogan. Tradisi ini, bukan hanya dilakukan saat tanggal 12 Rabiul Awal saja namun dilaksakan selama satu bulan penuh. Sesuai namanya “ Endhog “ yang berarti telur, tradisi ini menggunakan cangkang telur ayam yang ditusukan bambu lalu dihias dengan kembang kertas warna-warni , kemudian di tancapkan pada jodang . Jodang adalah pelepah pisang yang sudah di hias dengan kertas warna-warni. Selanjutnya Jodang akan diarak keliling kampong.

Filosofi tradisi ini ialah telur yang memiliki 3 lapisan yaitu kulit, putih telur dan kuning telur yang melambangkan Iman, Islam, dan Ihsan. Sedangkan hal-hal lainya untuk menunjukan nilai-nilai keislaman.

Sedangkan di tanah Solo, terdapat tradisi Sekaten. Dilansir dari laman Tribunnews, menurut KRT Haji Handipaningrat dalam buku “ Perayaan Sekaten” , kata sekaten berakar dari kata dalam Bahsa Arab, Syahadatain yang memiliki makna persaksian ( Syahadat ). Bagi umat Muslim sendiri, syahadat dianggap penting sebab merupakan proses pengakuan terhadap keesaan Tuhan dan risalah Nabi Muhammad SAW.

Setiap tradisi memiliki filosofinya masing-masing. Masih banyak lagi tradisi di berbagai daerah di Indonesia, yang juga memiliki maknanya tersendiri. Sebagai umat Islam dan warga negara yang hidup dalam tanah penuh penuh budaya, sudah kewajiban kita untuk melestarikan tradisi ini.

Tradisi di Tengan Pandemi

Setelah beberapa bulan hidup dalam hantaman Pandemi, masyarakat mulai bangkit dan kembali menjalani kehidupan dengan menerapkan tatanan hidup baru. Perkantoran mulai dibuka, tempat peribadahan mulai di buka, pasar mulai beroprasi, namun hanya sekolah yang belum melaksanakan kegiatan seperti biasa dan beralih ke PJJ atau pembelajaran jarak jauh.

Meski masih dalam kondisi pandemi, namun masyarakat sudah mulai melaksanakan beberapa kegiatan . baik berupa kegiatan individu maupun kegiatan yang bersifat kelompok. Beberapa acara-acara , dilaksanakan dengan jumlah peserta terbatas hingga secara virtual.

Perayaan Maulid Nabi pada tahun ini sedikit berbeda karna masih dalam keadaan Pandemi. Namun tak sedikit masyarakat yang tetap melaksanakan tradisinya. Di beberapa kota-kota di Indonesia, beberapa acara rutin yang biasanya diadakan setiap tahunya untuk memperingati Maulid Nabi terpaksa harus ditiadakan, karena belum memungkinkan untuk menggelar acara dalam jumlah masa yang besar.

Sedangkan di beberapa desa, perayaan Maulid Nabi masih dilakukan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Seperti contoh, warga Dusun Mandang Rt 01 Rw 01 Desa Sucen Kecamatan Gemawang Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Meski dirudung Pandemi, warga Dusun Mandang tetap melaksanakan tradisi Maulid Nabi yaitu rutin melaksanakan Diba’an atau Maulid Diba’ . kegiatan ini dimulai setiap malam tanggal 1 Rabiul Awal hingga malam tanggal 12 Rabiul Awal.

Hingga pada puncaknya yaitu pada tanggal 12 Rabiul Awal atau bertepatan dengan 29 Oktober 2020 kemarin, warga bersama-sama membaca Maulid Diba’ sehabis maghrib, dan di tutup dengan Ambengan atau biasa disebut dengan tumpeng. Dari mulia anak-anak remaja hingga orang tua, bersama-sama memeriahkan acara ini, bersuka cita bersholawat sebagai wujud kegembiraan merayakan Maulid Nabi.

Meski tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,yang pada saat puncak perayaan Maulid Nabi selalu dilaksanakan dengan meriah, mulai dari Tabligh Akbar hingga Shalawat bersama, pada tahun ini masyarakat tetap melaksanakan tradisi dengan penuh khidmad dan tetap menjalankan protocol kesehatan tanpa adanya acara-acara besar seperti tahun-tahun sebelumnya.

Menjaga tradisi sudah menjadi kewajiban kita sebagai generasi penerus bangsa. Meski dalam hantaman pandemi, tetap laksanakan tradisi dengan mematuhi protocol kesehatan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan