oleh

Urgensi Pendidikan Seksualitas di Era Globalisasi

Oleh: Anisah Wijaya
Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung


Dalam beberapa bulan terakhir sampai saat ini kita masih dilanda pandemi covid-19. Bukan hanya di Indonesia saja namun juga hampir melanda diseluruh wilayah di dunia ini. Namun bukan berarti kita tidak dapat mendapatkan informasi dan edukasi mengenai yang namanya pelecehan seksual ditengah-tengah pandemi ini. Ini merupakan hal yang sangat penting untuk kita pelajari terutama mengenai pelecehan seksual pada anak-anak. Sebelum itu kita harus mengenal apa itu pelecahan seksual. Pecehan seksual merupakan suatu tindakan seksual dimana ini merupakan tindakan yang tidak diinginkan oleh semua orang dan menimbulkan kerugian bagi orang yang mengalami itu.

Pelecahan seksual ini merupakan perbuatan yang tidak menyenangkan seperti permintaan untuk melakukan perbuatan seksual, tindakan secara lisan ataupun secara fisik atau juga secara isyarat yang bersifat seksual dimana tindakan ini sangat merugikan orang lain. Perilaku semacam ini dapat membuat orang merasa dirugikan, merasa dipermalukan dan juga terintimidasi atas tindakan tersebut.

Suatu perilaku yang dapat kita katakan sebagai suatu tindakan pelecehan seksual, yaitu terdapat beberapa macam seperti pernyataan secara lisan atau fisik yang mana tindakan tersebut mengambarkan sebagai perbuatan seksual seperti suatu pesan dimana didalamnya menampilkan suatu konten seksual eksplisit didalam bentuk cetak atau bentuk media elektronik atau media sosial seperti melalui email, SMS, video, poster CD dan lain-lain.

Dapat juga pelecahan seksual ini langsung terjadi secara langsung pada perilaku fisik seperti menyetuh bagian-bagian yang dianggap berharga bagi orang tersebut, mencubit, bahkan sampai mencium dan juga sampai melakukan kekerasan fisik kepada korban. Pada tindakan pelecahan ini sebagai korban, ia merasa tindakan yang dilakukan terhadapnya itu merupakan tindakan yang tidak ia inginkan dan juga secara langsung ia merasa bahwa tindakan tersebut membuat dirinya tersebut terhina dan tertekan atas perbuatan dari pelaku.

Pelecahan seksual dapat terjadi dimana saja, kapan pun itu entah di ditempat umum seperti dikendaraan umum ( bus, angkutan umum, taksi ), sekolah, tempat kerja atau bisa saja terjadi di tempat yang selama ini kita anggap cukup aman yakni rumah. Pada dasarnya memang yang sering terkena pelecehan seksual ini adalah kaum perempuan namun tidak menutup kemungkinan ini bisa terjadi kepada siapa saja. Ada juga laki-laki yang menjadi korban dari pelecehan seksual.
Berdasarkan data dari Komnas Perempuan, setiap dua jam ada tiga perempuan yang mengalami kekerasan seksual.

Komnas Perempuan menemukan angka korban dan juga pelaku kekerasan seksual pada anak sudah cukup mengahawatirkan sejak tahun lalu. Komnas Perempuan juga masih menemukan adanya pelaku kekerasan seksual yang terjadi pada anak yang berada di bawah umur 18 tahun selama 3 tahun secara berturut-turut adalah orang yang mereka kenal. Pelecahan seksual yang terjadi pada anak merupakan hal yang sangat penting untuk kita bahas. Bagaimana tidak setiap tahun kasus pelecahan pada anak selalu mengalami peningkatan. Anak-anak dibawah umur memiliki resiko yang cukup beresiko untuk menjadi salah satu korban dari pelecahan seksual.

Pentingnya pendidikan atau pembelajaran mengenai seksualitas. Memang, menurut beberapa orang pembelajaran ini dianggap tidak penting, mereka masih berfikiran tabu mengenai pembelajaran ini. Namun dapat kita sadari bahwa pendidikan seksualitas ini memang sangat dibutuhkan saat ini atau ini bersifat sangat penting. Dimana kita bisa membantu anak-anak serta remaja lebih memahami tentang resiko pelecehan serta kekerasan seksual dan juga kita dapat menghindari dari bahayanya penyakit alat reproduksi. Dalam memberikan edukasi mengenai pendidikan seksualitas kepada anak-anak dan remaja itu bukan hnaya sekedar memberikan informasi mengenai bahanya pelecahan seksual namun juga bagaimana cara merawat dan memberikan informasi mengenai hal yang boleh dan juga tidak dilakukan pada organ tersebut.

Pemberian edukasi mengenai seksualitas ini bisa diberikan di rumah oleh orang tua dan juga di sekolah yang diberikan oleh guru. Pembelajaran ini sebaiknya kita berikan sejak saat dini karena ini memang sangat diperlukan demi tumbuh kembang dari anak-anak dan remaja.

Sangat penting peranan orang tua dalam memberikan pemahaman bagi anaknya bahwa betapa bahayanya pelecehan seksual itu. Peran orang tua dalam memberikan pemahaman itu juga tidak cukup. Orang tua juga harus mengawasi tindakan dari anaknya, apalagi semakin berkembangnya zaman, semakin canggih dan semakin mudah pula anak-anak mendapatkan informasi dari mana saja. Mereka tidak tahu apakah yang mereka liat atau mereka cari itu ada resiko untuk melihat yang tidak-tidak.

Banyak dampak yang dapat dirasakan oleh anak yang mengalami pelecehan seksual baik itu dalam jangka pendek maupun dalam jangka yang panjang. Beberapa dampaknya yaitu anak mengalami kerusakan psikologisnya. Dimana anak tersebut mengalami depresi, ganguan stress pasca trauma, gelisah, merasa sedih, malu dan masih banyak lagi. Dampak dari jangka panjangnya yakni anak tersebut dapat melakukan anti sosial dan bahkan yang paling berbahanya yaitu ia sampai nekat melakukan tindakan bunuh dini. Dan juga ada dampak fisik dimana pada saat pelecehan seksual tersebut terjadi anak yang mengalami itu mendapatkan luka baik diluar maupun didalam tubuhnya. Banyak dari anak-anak atau remaja ini setelah mereka mendapatkan perlakuan yang tidak baik itu mereka tidak langsung memberi tahu kepada orang tua mereka karena mereka merasa takut dan malu atau juga mereka tidak mau memberi tahu orang tuanya karena anak tersebut telah diancam pelaku pelecehan tersebut.

Di dalam hukum di Indonesia, tidak ada yang mengenal adanya istilah kekerasan seksual dalam semua peraturan Perundang-Undangan di Indonesia, termasuk dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP ), KUHP hanya mengenal yang namanya perbuatan yang lebih spesifik seperti perbuatan cabul dan pemerkosaan. Namun apabila kita merunjuk pada UU Perlindungan Anak ada yang dinamakan dengan istilah kekerasan anak dan pemerkosaan termasuk didalam kejahatan terhadap anak yang secara khusus ada hukumanya di dalam UU tersebut. Terdapat ancaman pidana dalam UU Perlindungan Anak dimana terdapat pasal-pasal mengenai pelecehan seksual dan kekerasan seksual. Pada pelaku pelecehan seksual serta para pelaku yang melakukan kekerasan seksual ini diancam dengan pidana penjara minimal 5 ( lima ) tahun dan maksimal 15 ( tahun ).

Edukasi dan juga pemahaman mengenai pendidikan seksualitas ini memang harus dilalakukan sejak dini. Agar kita dapat melindungi serta membantu anak agar terhindari dari ancaman pelecehan seksual saat ini. Dan kita juga membantu menurunkan angka kasus pelecehan seksual yang ada di Indonesia. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan