YOGYAKARTA – Across Species Project Indonesia (ASPI), sebuah organisasi non-profit yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan hewan yang diternakkan, khususnya itik petelur, merilis laporan Survei Konsumen Telur Itik.
Survei ini memetakan pola konsumsi, preferensi pembelian, dan tingkat kesadaran konsumen terhadap kesejahteraan hewan, serta peluang pengembangan label dan sertifikasi untuk produk telur itik di Indonesia.
Telur itik lekat dengan menu sehari-hari masyarakat Indonesia, mulai dari martabak, rawon, dan gudeg, dengan telur asin sebagai favorit utama.
Pada 2025, produksi telur itik di Indonesia mencapai 290.002,09 ton, dengan Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah sebagai tiga provinsi penghasil terbesar [sumber: Badan Pusat Statistik, 2025].
Namun, seperti banyak produk pangan lainnya, belum ada informasi yang transparan mengenai asal-usul telur itik di pasaran, termasuk bagaimana itik penghasilnya dipelihara.
Melalui survei ini, ASPI ingin mengukur kesadaran publik terhadap kesejahteraan itik petelur, memahami preferensi dan segmen konsumen telur itik, serta mengidentifikasi peluang pelabelan dan sertifikasi produk.
Survei dilakukan secara daring pada Juni 2026 terhadap 500 konsumen telur itik di Jabodetabek, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali.
Survei deskriptif ini menggunakan data primer yang dikumpulkan langsung melalui kuesioner dengan metode convenience sampling, yaitu dari responden yang bersedia berpartisipasi.
Hasil survei menunjukkan bahwa telur itik masih menjadi bagian dari konsumsi rutin masyarakat, terutama pada kelompok usia produktif.
Telur asin menjadi produk yang paling diminati, disusul telur itik mentah dan berbagai olahan.
Sebagian besar responden juga mengonsumsi telur itik di luar rumah, mulai dari dua hingga tiga kali sebulan hingga sekali atau lebih dalam seminggu.
Rasa, tekstur, aroma, dan tampilan, serta anggapan bahwa kandungan gizinya lebih tinggi, menjadi alasan utama konsumen memilih telur itik.
Pasar tradisional masih menjadi tempat pembelian utama, meskipun saluran modern mulai menunjukkan potensi.
Temuan yang lebih menonjol datang dari sisi kesejahteraan hewan. Mayoritas responden (61,6%) menilai kesejahteraan hewan sangat penting dalam produksi pangan.
Sebanyak 62,4% responden juga menyatakan bersedia membeli telur itik bebas sangkar (cage-free) meskipun harganya sedikit lebih mahal.
Kabar itu disampaikan Direktur Strategi dan Program ASPI, Dhiani Probhosiwi, Selasa (3/11/2026).
“Konsumen ternyata peduli dengan cara itik dipelihara. Mayoritas responden mengetahui bahwa kandang baterai merupakan sistem yang paling kurang mendukung kesejahteraan itik petelur, sementara sistem bebas sangkar, baik sistem postal maupun angon, dianggap lebih mendukung kesejahteraan hewan,” ungkapnya.
“Sayangnya, hingga kini konsumen belum bisa membedakan telur itik dari peternakan bebas sangkar dan kandang baterai di pasaran,” katanya.
Survei ini juga menemukan dukungan kuat terhadap transparansi informasi produk.
Mayoritas responden (41,6%) sangat setuju dengan adanya label dan/atau sertifikasi pada produk telur itik, dengan instansi pemerintah dan lembaga sertifikasi independen sebagai dua lembaga yang paling dipercaya untuk menerbitkannya.
Meski sebagian besar konsumen sudah mengenali perbedaan sistem kandang, pemahaman mereka tentang dampak setiap sistem terhadap kondisi itik, seperti ruang gerak, kesehatan, dan kemampuan menjalankan perilaku alaminya, masih perlu ditingkatkan.
Karena itu, edukasi publik mengenai praktik pemeliharaan di balik telur yang mereka konsumsi tetap sangat diperlukan.
Peluang bagi Industri Telur Itik Indonesia
Tingginya minat konsumen terhadap produk bebas sangkar membuka peluang diferensiasi produk telur itik berdasarkan sistem pemeliharaannya.
Hal serupa telah diterapkan dalam industri telur ayam, di mana telur bebas sangkar dipasarkan secara terpisah dari telur konvensional.
Dengan dukungan konsumen yang bersedia membayar lebih, pelaku industri dapat memosisikan telur itik bebas sangkar sebagai telur dengan standar kesejahteraan hewan yang lebih tinggi (higher-welfare eggs).
Agar peluang ini dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab, ASPI merekomendasikan beberapa langkah bagi berbagai pihak:
Pelaku industri dan peternak: mengembangkan produk telur itik bebas sangkar dengan manajemen pemeliharaan yang baik, serta meningkatkan transparansi dan keterlacakan produk melalui kemasan maupun platform digital.
Pemerintah dan regulator: mendorong penyusunan standar sertifikasi kesejahteraan hewan nasional yang spesifik untuk setiap spesies, termasuk itik petelur, mengawasi klaim produk, dan mendukung edukasi publik.
Lembaga sertifikasi independen: mengembangkan skema sertifikasi yang mudah dipahami, sesuai dengan konteks lokal Indonesia, serta didukung mekanisme audit yang transparan.
Ritel dan distributor: menyediakan kategori produk berdasarkan sistem pemeliharaan yang terverifikasi dan memperkuat informasi di titik penjualan.
“Temuan ini merupakan sinyal bagi industri. Permintaan terhadap telur itik yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan sudah ada,” ujar Dhiani.
“Yang dibutuhkan sekarang adalah label yang kredibel agar konsumen dapat memilih dengan yakin, dan agar peternak yang menerapkan praktik baik mendapatkan nilai yang layak,” imbuhnya.
Diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak, yaitu pemerintah sebagai pembuat kebijakan, perusahaan, peternak sebagai produsen, dan masyarakat sebagai konsumen, untuk mendorong industri telur itik Indonesia yang lebih transparan dan lebih sejahtera bagi itik petelur. (*)






