FEATURESHEADLINE

Pemuda Bukan Hanya Pewaris, Tapi Penentu Arah Bangsa

16
×

Pemuda Bukan Hanya Pewaris, Tapi Penentu Arah Bangsa

Sebarkan artikel ini
Bunda Melati saat menjadi Keynote Speech acara Rembuk Merah Putih di Aula BPMP Pemprov Babel, Senin (4/8).

Aula Balai Peningkatan Mutu Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih terasa sejuk, meski ratusan orang memenuhi ruang itu, Senin pagi.

Ratusan peserta dan panitia memenuhi ruangan. Mereka dari berbagai elemen dan kalangan. Ada dari kepemudaan, pelajar, mahasiswa, akademisi hingga insan pers.

Di meja depan, di antara sejumlah tamu undangan dan narasumber, nampak sosok perempuan yang sangat familiar. Senyum manisnya ramah di balik kerudung cream yang dipakainya.

Bunda Melati, begitu sapaan akrabnya. Sebelum terpilih menjadi anggota DPR-RI, dia pernah menjadi Ketua TP PKK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, ketika suaminya Erzaldi Rosman menjabat sebagai gubernur di Negeri Serumpun Sebalai.

Usianya pun tidak muda lagi, mungkin sudah lebih dari 50 tahun. Namun masih anggun ketika kakinya melangkah menuju podium.

Di sela kesibukannya sebagai wakil rakyat dan ibu rumah tangga, juga perjalanan yang bolak balik Jakarta – Bangka Belitung, Bunda Melati masih menyempatkan waktu untuk menjadi keynote speech di acara Rembuk Merah Putih yang digelar oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Bangka Belitung dengan tema Mewujudkan Pemuda Cerdas, Kritis dan Cinta tanah Air.

“Rembuk Merah Putih bukan sekedar diskusi. Ini adalah untuk merumuskan bagaimana generasi muda Indonesia dapat menjadi benteng utama dalam menangkal ancaman terorisme, radikalisme dan paham-paham intoleran yang terus mengintai generasi di tengah kemajuan teknologi dan derasnya harus informasi,” ungkapnya di hadapan hadirin.

“Kita menyadari bahwa terorisme tidak hanya menyakiti bangsa, tapi juga menyerang nilai-nilai kebangsaan,” sambungnya.

Bunda Melati menyebutkan, pemuda memegang peran kunci sebagaimana tema kegiatan hari ini yaitu Mewujudkan Pemuda Cerdas, Kritis dan Cinta Tanah Air.

Melalui kegiatan ini, para pemuda diharapkan menjadi cerdas sebagai pilar informasi. Pemuda tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga mampu memiliki literasi digital, sosial dan kebangsaan yang tinggi.

“Mereka mampu membaca realitas secara objektif, tidak mudah terpancing oleh provokasi dan memiliki daya tahan terhadap narasi yang memecah belah. Menjadi pemuda kritis sebagai pilar dan agen perubahan,” tuturnya.

Bagi Bunda Melati, pemuda yang kritis bukan berarti pemuda yang suka melawan. Tapi mereka yang berani bertanya, berani berpikir dan berani melahirkan solusi.

“Mereka tidak mati terhadap persoalan bangsa, tetapi hadir sebagai agen perubahan yang berpikir sistematis. Tidak dengan contoh dan selalu berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila, cinta tanah air sebagai pilar karakter terhadap bangsa yang cinta tanah air.

Pemuda bukan sekedar simbolik, bukan hanya sekedar memakai batik atau menyanyikan lagu cinta tanah air. Pemuda adalah komitmen jangka panjang untuk menjaga keutuhan Indonesia, termasuk menjaga Indonesia dari paham ekstrem dan kekerasan melalui forum-forum diskusi.

Kegiatan seperti Rembuk Merah Putih menjadi tradisi intelektual sekaligus kebangsaan di manapun. Pemuda dilibatkan secara aktif untuk bersuara dan diberi kepercayaan untuk memimpin.

“Karena sejatinya mencegah terorisme itu bukan hanya tugas aparat, tetapi tugas semua rakyat Indonesia. Mari kita jadikan forum ini sebagai momen untuk menguatkan, bahwa Indonesia harus dijaga bersama,” pesannya.

“Pemuda bukan hanya pewaris bangsa, tapi penentu arah bangsa. Rembuk Merah Putih Ini bukan akhir dari semua, tapi adalah gerakan bersama melawan terorisme dengan kecerdasan, kritik dan cinta tanah air,” demikian Bunda Melati. (*)

Oleh: Romlan
Pemimpin Redaksi KABARBANGKA.COM