HEADLINEPEMKOT

Perkuat Sinergi untuk Pencegahan dan Pengendalian ATM

×

Perkuat Sinergi untuk Pencegahan dan Pengendalian ATM

Sebarkan artikel ini
Penguatan Forum Kemitraan untuk Pencegahan dan Pengendalian AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria di Sun Hotel Pangkalpinang, (15/9).

PANGKALPINANG – Pemerintah Kota Pangkalpinang terus memperkuat sinergi lintas sektor dalam upaya pencegahan dan pengendalian AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan Malaria (ATM).

Komitmen tersebut ditegaskan melalui kegiatan Pertemuan Penguatan Forum Kemitraan untuk Pencegahan dan Pengendalian AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (PP ATM) yang bersumber dari anggaran kelurahan Kota Pangkalpinang.

Kegiatan yang mengusung semangat penguatan kemitraan tersebut berlangsung di Sun Hotel Pangkalpinang, Selasa (15/9/2026), secara resmi dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kota Pangkalpinang, Agustu Efendi.

Ia menyampaikan bahwa penanggulangan AIDS, TBC, dan Malaria membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, tidak hanya sektor kesehatan.

Menurutnya, dukungan lintas sektor menjadi bagian penting dalam memastikan upaya pencegahan, penemuan kasus, pengobatan, hingga pendampingan masyarakat dapat berjalan secara optimal.

Ia juga memaparkan dukungan Global Fund bagi Indonesia yang disebut telah mencapai sekitar 1,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp20,89 triliun.

Dana tersebut disalurkan melalui Kementerian Kesehatan dan organisasi non-pemerintah untuk mendukung berbagai program penanggulangan penyakit menular.

“Melalui pendanaan Global Fund ini, lebih dari 20 juta jiwa telah terselamatkan, termasuk 10 juta jiwa di kawasan Indo-Pasifik. Global Fund juga telah mencegah 145 juta infeksi baru sejak tahun 2012,” ujar Agus Fendi.

Ia menjelaskan, dukungan tersebut antara lain dimanfaatkan untuk memperluas akses obat-obatan, pemeriksaan diagnostik, layanan konseling, peningkatan kapasitas tenaga medis, serta penguatan sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan itu, Agustu turut menyoroti tantangan penanggulangan TBC dan HIV/AIDS di Indonesia.

Ia menyebut Indonesia masih menghadapi beban kasus TBC yang tinggi, dengan estimasi sekitar 1,09 juta kasus dan angka kematian mencapai 125 ribu jiwa setiap tahun.

Sementara untuk HIV/AIDS, diperkirakan terdapat sekitar 28 ribu infeksi baru setiap tahun dengan jumlah orang yang hidup dengan HIV mencapai sekitar 570 ribu orang.

Agustu menilai fenomena gunung es masih menjadi tantangan dalam penanganan HIV/AIDS, terutama akibat stigma dan rasa malu yang membuat sebagian masyarakat enggan melakukan pemeriksaan maupun melaporkan kondisinya.

“HIV ini seperti fenomena gunung es. Yang terlihat di permukaan sedikit, tetapi di bawahnya sangat banyak karena masih ada stigma dan rasa malu dari penderita untuk melapor. Ini yang perlu kita antisipasi,” tegasnya.

Karena itu, pemerintah daerah mendorong penguatan peran kecamatan dan kelurahan sebagai garda terdepan dalam pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.

Sinergi juga perlu dibangun bersama organisasi kemasyarakatan dan kelembagaan lainnya, termasuk PKK Pokja IV serta Komisi Penanggulangan AIDS.

Pemerintah Indonesia menargetkan eliminasi AIDS, TBC, dan Malaria pada 2030. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari komitmen nasional dalam memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular.

Agustu berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada forum koordinasi, tetapi mampu menghasilkan komitmen dan langkah nyata yang dapat diterapkan di tingkat kelurahan dan kecamatan.

Ia meminta hasil pembahasan forum dirumuskan menjadi komitmen bersama untuk selanjutnya disampaikan kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Wali Kota Pangkalpinang.

Hal itu dinilai penting untuk memastikan dukungan penganggaran terhadap program pencegahan dan pengendalian AIDS, TBC, dan Malaria dapat diperkuat di tingkat kelurahan maupun kecamatan.

“Marilah kita bekerja sama, saling bergandengan tangan untuk mengoptimalkan peran dan kontribusi dalam menuntaskan kasus AIDS, TBC, dan Malaria menuju eliminasi tahun 2030,” tutupnya. (KBC)

Tinggalkan Balasan