BANGKA BARAT – Maraknya kasus gangguan dan gagal ginjal pada anak-anak di Kabupaten Bangka Barat menjadi sinyal bahaya yang butuh perhatian serius.
Konsumsi rutin minuman pemanis kemasan hingga kualitas air minum isi ulang dengan tingkat keasaman (pH) tinggi ditengarai menjadi pemicu utama meningkatnya kasus medis pada anak di wilayah tersebut.
Dalam rapat audiensi antara Pemkab Bangka Barat dan Balai Besar POM Pangkalpinang, Senin (27/7/2026), Dinas Kesehatan Bangka Barat membeberkan temuan miris.
Sejumlah anak harus dirujuk ke RSMH Palembang akibat kerusakan fungsi ginjal. Terbaru, seorang anak berusia 10 tahun terdiagnosa mengalami kebocoran ginjal akibat kebiasaan mengonsumsi minuman berkemasan dan minim minum air putih.
“Kasus gagal ginjal pada anak ini terhitung lumayan banyak.
Dari riwayatnya, mayoritas akibat konsumsi minuman kemasan setiap hari dan kurang air putih,” ungkap Muria Idriakasih selaku Kepala Bidang Simber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat.
Selain minuman kemasan, minimnya kepatuhan pengusaha air minum isi ulang galon dalam melakukan uji berkala setiap tahun turut memperburuk situasi.
Sebagian besar air galon di Bangka Barat diketahui memiliki pH di bawah 7 (sangat asam), yang jika dikonsumsi terus-menerus dalam jangka panjang dapat merusak organ ginjal.
Plt Sekretaris Daerah Bangka Barat, Abimayu, menegaskan perlunya pengawasan ketat dan terpadu bersama BBPOM, mulai dari jajanan di luar pagar sekolah, air minum warga, hingga peredaran obat-obatan keras bebas dan kosmetika ilegal yang juga berisiko tinggi bagi kesehatan masyarakat. (KBC)
Ancaman Gagal Ginjal Anak Mengintai Bangka Barat






