HEADLINEPEMPROV

Belum Ada Teknologi Pemisahan Monazite Hingga Nol Persen

×

Belum Ada Teknologi Pemisahan Monazite Hingga Nol Persen

Sebarkan artikel ini
Kantor Dinas ESDM Provinsi Babel (Net)

PANGKALPINANG – Monazite atau monasit adalah mineral fosfat berwarna cokelat kemerahan hingga kuning keemasan yang sangat bernilai tinggi.

Monazite merupakan sumber utama Logam Tanah Jarang (Rare Earth) dan bersifat mengandung unsur radioaktif, di antaranya Torium & Uranium yang berfungsi sebagai bahan bakar reaktor nuklir bersih.

Mineral jenis ini banyak ditemukan di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai produk sampingan dari penambangan bijih timah.

Teknologi pemisahan monazite dilakukan melalui dua tahapan utama, yakni pemisahan fisik (konsentrasi) untuk mendapatkan konsentrat murni dari mineral pengikut (seperti kuarsa dan ilmenit), dan pemisahan kimia (hidrometalurgi) untuk mengekstraksi Unsur Tanah Jarang (LTJ), Torium, dan Uranium.

1. Tahap Pemisahan Fisik

Metode ini memanfaatkan perbedaan sifat fisik monasit (berat jenis tinggi, paramagnetik, dan non-konduktor) untuk memisahkannya dari pasir mineral lainnya.

* Pemisahan Gravitasi

Memisahkan mineral berdasarkan berat jenis menggunakan alat seperti shaking table atau spiral konsentrator.

* Pemisahan Magnetik

Menarik mineral dengan tingkat kemagnetan berbeda. Monazit bersifat paramagnetik, sehingga mudah dipisahkan dari mineral non-magnetik seperti kuarsa.

* Pemisahan Elektrostatik

Memisahkan mineral berdasarkan konduktivitas listrik. Karena monazit adalah isolator (non-konduktor), ia akan terpisah dari mineral konduktif seperti rutil dan ilmenit.

2. Tahap Pemisahan Kimia (Ekstraksi)Setelah didapatkan konsentrat monazit murni, material diurai untuk mengekstrak logam di dalamnya.

*Dekomposisi (Cracking)

Mineral monasit diuraikan menggunakan suhu tinggi dengan bantuan asam (misal: asam sulfat) atau basa (misal: Natrium Hidroksida / NaOH). Proses ini melarutkan unsur berharga dan memisahkannya dari pengotor.

* Ekstraksi Pelarut (Solvent Extraction)

Campuran logam tanah jarang dipisahkan satu per satu menggunakan cairan pelarut organik khusus. Metode ini juga digunakan untuk memisahkan unsur radioaktif seperti Torium dan Uranium.

* Presipitasi (Pengendapan)

Unsur yang telah dipisahkan kemudian diendapkan menjadi bentuk senyawa garam atau hidroksida Tanah Jarang yang siap diproses lebih lanjut.

Mengingat monazit mengandung unsur radioaktif (Torium/Uranium), pengelolaan limbah dan perlindungan radiasi menjadi faktor krusial dalam perancangan fasilitas pemisahannya.

Sayangnya, saat ini di Bangka Belitung bahkan di Indonesia belum ada teknologi maupun tenaga ahli yang dapat memurnikan atau memisahkan monazite dari mineral lain hingga kadarnya nol persen.

Hal itu dibenarkan Kepala Dinas Energi & Sumber Daya Mineral Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Reskiansyah, saat berbincang dengan awak media di Kantor Dinas ESDM, Jumat pagi (5/6/2026).

Ia mengatakan, program hilirisasi mineral ikutan timah atau logam tanah jarang masih terkendala terbatasnya teknologi dan sumber daya manusia yang ahli di bidangnya.

“Teknologi dan SDM untuk memisahkan Monazite dari mineral lainnya hingga nol persen belum ada di sini. Teknologi yang digunakan saat ini masih kelas medium, berupa meja goyang,” ungkapnya.

Reskiansyah menjelaskan, terdapat sekitar 17 jenis mineral logam tanah jarang yang ditemukan sebagai produk samping dari penambangan pasir timah.

Seperti ilmenite yang diperbolehkan untuk diekspor dengan kadar di atas 45 persen dan zirkon di atas 65 persen.

Sementara pemerintah melarang ekspor Monazite dalam bentuk apapun. Jika ada perusahaan yang mau ekspor mineral lainnya, maka kadar Monazite harus nol persen.

“Untuk pemisahan tadi butuh teknologi yang sangat presisi. Kalau sedikit saja ada kandungan monazite, artinya komoditas lain gagal ekspor. Ini yang berdampak pada ekonomi dan investasi daerah,” jelasnya.

Reskiansyah menambahkan, persoalan teknologi hilirisasi ini tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah daerah, tapi juga harus menjadi tanggung jawab nasional.

“Negara punya lembaga riset, kami mendorong agar ini dimaksimalkan untuk hilirisasi mineral,” ujarnya.

Sejumlah negara seperti China, India, Rusia dan Amerika, diyakini telah memiliki teknologi pengolahan yang lebih mutakhir, namun proses kerja samanya tidak akan berjalan mudah.

“Bagaimana negara lain mau transfer teknologinya? Persoalannya di situ. Ini kan sudah urusan negara, sementara kita di daerah kena dampaknya. Di satu sisi daerah ingin sumber daya alam ini bisa diolah, tapi jangan juga malah menimbulkan kekhawatiran bagi investor,” katanya.

“Untuk itu kami mendorong agar teknologi pemisahan dan pengolahan mineraal segera diutamakan melalui kebijakan negara. Kami tentu siap, bahan bakunya ada, karena selama ini mineral ikutan itu dianggap barang sisa yang dibuang begitu saja,” demikian Reskiansyah. KBC)

Tinggalkan Balasan