HEADLINEKAMTIBMAS

Rencana Aksi Batal, Kasat Polairud Temui Perwakilan Nelayan

256
×

Rencana Aksi Batal, Kasat Polairud Temui Perwakilan Nelayan

Sebarkan artikel ini
Kasat Polairud Polres Bangka, IPTU Arief Fabillah menemui perwakilan nelayan di warung kopi dekat Pelelangan Ikan Sungailiat, Senin (7/10). Foto: Romlan

BANGKA – Tersiar kabar ratusan nelayan berkumpul hendak melakukan aksi di Muara Air Kantung Sungailiat, Senin (7/10) pagi.

Namun aksi itu dibatalkan, hanya sejumlah perwakilan kembali mempertanyakan legalitas perizinan perusahaan yang melakukan pengerukan di alur muara.

“Kami hanya mau tahu legalitas perizinannya. Kami khawatir kalau terjadi gugat menggugat muara itu kembali berstatus quo. Kami belajar dari pengalaman sekian tahun lalu,” ungkap Albar, pelaku usaha perikanan.
[irp]
Sementara Ketua Formanpis, Heri Ramadhani, aksi nelayan hari ini dibatalkan. Ia menyatakan selama kegiatan di muara bermanfaat untuk nelayan, silakan saja.

“Tapi kalau mau jual pasirnya, harus tunjukkan dulu izinnya. Aksi hari ini nggak jadi, kami hanya mewakili nelayan mempertanyakan legalitas perizinan saja,” kata dia.

Kapolres Bangka melalui Kasat Polairud, IPTU Arief Fabillah, menyarankan agar perwakilan nelayan menanyakan soal legalitas perizinan perusahaan itu ke pemerintah daerah atau pejabat terkait.
[irp]
“Selama kegiatan itu bermanfaat dan tidak merugikan nelayan, sebaiknya dibiarkan saja. Yang penting kan alur itu terbuka, perahu bisa lewat. Soal legalitas perizinan, perwakilan saja datang ke pemda, tanyakan ke pejabat di sana,” imbaunya.

IPTU Arief juga mengimbau agar nelayan jangan mudah terpancing dengan isu-isu yang dapat mengganggu situasi Kamtibmas.

Terpisah, Penjabat Bupati Bangka, Muhammad Haris, menyatakan pada intinya pemda berupaya agar muara tersebut bisa dilewati oleh nelayan.
[irp]
“Pihak Naga Mas sudah kami berikan SK dalam keadaan mendesak untuk pendalaman alur. Untuk ijin lainnya mereka harus memenuhi ijin tersebut sesuai aturan berlaku,” jelasnya.

“Itu harus dikawal, jangan ada kepentingan-kepentingan. Karena kami tidak ada kepentingan kecuali muara itu terbuka,” demikian Haris. (Romlan)