PANGKALPINANG – Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, menghadiri acara Bimbingan Teknis dan Launching Digital Farming PKK CIKAR (Cintai Tanamann) yang digelar Bank Indonesia di Rumdis Gubernur, Selasa (21/10/2025).
Program Digital Farming dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Babel, Rommy S Tamawiwy dan Ketua TP PKK Babel, Ni Komang Widari ini merupakan upaya mendorong kemandirian pangan keluarga, khususnya melalui budidaya cabai berbasis teknologi digital.
Dalam sambutannya, Hidayat Arsani menekankan pentingnya efisiensi dalam bertani. Ia memberikan instruksi agar tangki air ditempatkan di posisi tinggi, agar bisa menghemat listrik dan memanfaatkan gravitasi untuk penyiraman.
“Tangkinya itu harus di atas supaya irit listrik. Nah, di situ nanti pupuknya juga, supaya pupuknya cair. Jangan pakai pupuk kimia, pakai kotoran ayam! Kalau tidak ada kotoran ayam, cabai tidak akan bisa makmur,” katanya disambut tawa peserta.
Ia menyebut, sistem sederhana itu terbukti berhasil dan menghasilkan panen cabai yang luar biasa di beberapa lokasi percontohan.
Hidayat Arsani menegaskan, pemerintah provinsi akan mengalokasikan dana hingga Rp2 miliar untuk mendukung program pangan keluarga tersebut.
Melalui program ini, setiap rumah tangga di Pangkalpinang ditargetkan memiliki 20 pohon cabai yang bisa dipanen setiap bulan.
“Kalau satu rumah punya 20 pohon cabai, bisa dapat dua kilo cabai per panen. Kalau harga paling murah Rp120 ribu per kilo, ya lumayan sekitar Rp240 ribu tambahan penghasilan,” jelasnya.
Selain cabai, program ini juga akan menyasar budidaya telur ayam, guna mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah seperti Palembang, Lampung, dan Medan.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Arsani juga menyampaikan ide unik: melibatkan anak-anak sekolah dari SD hingga SMA untuk ikut menanam cabai.
“Yang survei nanti bukan ibu-ibu lagi, tapi anak-anak sekolah sama gurunya. Kita kasih makan bakmi! Biar dari kecil mereka sadar pentingnya berkebun,” ujarnya disambut gelak tawa.
Menurutnya, cara ini lebih efektif daripada sekadar membagikan bibit dalam kantong plastik yang sering tidak ditanam.
“Kalau cuma dikasih satu kantong bibit, sampai kiamat enggak ditanam, Bu. Tapi kalau anak-anak dilibatkan, pasti tumbuh semangatnya,” ucapnya.
Ia meminta Bank Indonesia terus memantau perkembangan di lapangan agar hasilnya maksimal.
“Saya minta nanti kepala BI tolong dicek, air stand by. Saya akan turun langsung, jangan sampai pas BI datang cabainya tidak tumbuh,” tegasnya.
Sementara itu Ketua TP PKK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ni Komang Widari, menjelaskan makna dari program CIKAR yang diinisiasi bersama Bank Indonesia.
Menurutnya, CIKAR memiliki dua makna penting. Dalam bahasa Bangka Belitung, kata cikar berarti bagus atau baik. Sementara secara program, CIKAR merupakan singkatan dari Cintai Pekarangan.
Menurut Ni Komang, filosofi ini sejalan dengan semangat PKK untuk mengajak para ibu rumah tangga memanfaatkan lahan pekarangan sebagai sumber ketahanan dan kemandirian pangan keluarga.
“Dari pekarangan kita sendiri, ibu-ibu bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Yang penting ada niat dan kemauan,” ujarnya.
Dia juga menyarankan agar masyarakat tidak khawatir jika tidak memiliki lahan luas. Menurutnya, penanaman dengan polybag bisa menjadi solusi bagi rumah yang memiliki pekarangan terbatas.
Sedangkan bagi yang memiliki lahan lebih luas, dapat memanfaatkan sistem Smart Farming untuk mengatur penyiraman dan pemupukan secara digital.
“Melalui program ini, gerakan menanam di pekarangan rumah dapat menjadi budaya baru di Bangka Belitung. Dengan begitu, ibu-ibu tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan dapur, tetapi juga ikut mendukung kemandirian pangan daerah,” pungkasnya. (kabarbangka.com)






