BATENGHEADLINE

Warga Koba Mengaku Kesulitan Dapat Pertalite

×

Warga Koba Mengaku Kesulitan Dapat Pertalite

Sebarkan artikel ini
Gambar ilustrasi

BANGKA TENGAH – Masyarakat pengguna kendaraan roda dua maupun roda empat di Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, mengeluhkan sulitnya memperoleh bahan bakar minyak (BBM), baik di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) maupun di tingkat pengecer.

Saat ini, di Kecamatan Koba hanya satu SPBU yang melayani penjualan BBM Pertalite, yakni SPBU Berok. Sementara itu, SPBU Nibung berdasarkan pantauan di lapangan hanya melayani penjualan BBM jenis Pertamax, Dexlite, dan Solar.

Dari informasi yang diperoleh, dalam beberapa hari terakhir SPBU Nibung tidak melayani penjualan BBM jenis Pertalite. Hingga kini belum diketahui penyebab tidak tersedianya Pertalite di SPBU tersebut.

Kondisi tersebut membuat antrean kendaraan di SPBU Berok mengular dan menyebabkan masyarakat harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan BBM. Di sisi lain, pasokan BBM di tingkat pengecer juga disebut semakin sulit ditemukan.

Salah seorang pengendara sepeda motor, Madi, mengaku kesulitan mendapatkan Pertalite, baik di pengecer maupun di SPBU.

“Jujur sulit mendapatkan BBM Pertalite di pengecer. Kalau pun ada, yang dijual Pertamax. Di SPBU harus mengantre berjam-jam, sementara di Koba hanya satu SPBU yang beroperasi untuk Pertalite,” ujarnya, Jumat (10/7/26).

Menurut Madi, apabila kondisi tersebut terus berlangsung, masyarakat akan semakin kesulitan memenuhi kebutuhan bahan bakar untuk aktivitas sehari-hari.

“Hidup kami sudah sulit, masa mencari BBM saja juga sulit. Dengan adanya penjual BBM eceran sebenarnya kami sangat terbantu. Walaupun harganya lebih mahal dari SPBU, setidaknya kami tidak perlu mengantre berjam-jam,” katanya.

Ia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera mencari solusi agar distribusi BBM, khususnya Pertalite, kembali normal sehingga tidak menyulitkan masyarakat.

“Tolong pikirkan kami masyarakat kecil. Pikirkan juga pedagang BBM eceran yang selama ini membantu masyarakat. Kami bukan mencari masalah, kami hanya ingin bertahan hidup. Bagaimana mau bekerja kalau mencari BBM saja sudah sulit,” pungkasnya. (KBC)

Tinggalkan Balasan