BANGKA – Sebuah insiden kekerasan yang sangat miris terjadi di kawasan PT PMM, Desa Air Anyir, Kabupaten Bangka, Sabtu (7/3/2026).
Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan oknum anggota Satgas Trisakti dikeroyok sejumlah orang tak dikenal hingga tersungkur, dicekik, dan ditarik paksa di tengah kerumunan yang ramai.
Kronologi awal menurut rekaman video, peristiwa itu bermula saat mobil Satgas berhenti di depan area PT PMM.
Dua anggota Satgas turun dari kendaraan dan berada di pintu masuk kawasan perusahaan, menarik perhatian sejumlah orang di sekitar lokasi.
Tidak lama kemudian, kerumunan mulai mendekat. Situasi awal yang tampak hanya berupa perdebatan segera memanas, beberapa orang menyerang anggota Satgas secara bersamaan.
Dalam kondisi itu, terlihat salah seorang warga mengangkat botol bir sambil berulang kali berteriak ada botol bir, ada botol bir, yang menimbulkan dugaan bahwa Satgas sengaja dijebak.
Dugaan muncul pula bahwa beberapa penggeroyok membawa senjata tajam, meski informasi ini masih perlu diverifikasi.
Tidak hanya Satgas, wartawan yang akan meliput insiden ini juga menjadi korban kekerasan fisik dan intimidasi.
Wartawan TV One, Frendy Primadana alias Dana menceritakan bagaimana peristiwa pengeroyokan dan intimidasi yang dialaminya pada Sabtu siang kemarin.
“Saya sudah naik motor, tiba-tiba baju saya ditarik oleh oknum PT PMM. Saya terpental dan terguling di jalan. Saya kemudian dipukuli oleh seorang supir truk dan Satpam,” ungkapnya.
Dana menuturkan, keributan itu memicu anyak orang keluar dari area PT PMM dan ikut memukuli dia bersama rekannya.
“Saya diselamatkan oleh penguurus PT PMM, tetapi masih sempat ditendang sehingga hidung saya berdarah. Saya juga mendapat ancaman pembunuhan jika tidak membuat video sesuai kemauan mereka,” bebernya.
Dana menyatakan, kejadian ini menguatkan dugaan adanya upaya sistematis untuk mengintimidasi anggota Satgas dan wartawan, yang diduga dipimpin atau dipengaruhi pihak tertentu di sekitar PT PMM.
Dugaan keterlibatan preman dan penghalang-halangan terhadap tugas resmi semakin menguat, terutama dengan indikasi senjata tajam, botol bir sebagai jebakan, dan kerumunan yang memojokkan Satgas.
Selain kekerasan fisik dan intimidasi, peristiwa ini menimbulkan pertanyaan serius terkait operasional PT PMM, termasuk dugaan praktik penambangan monasit dan zirkone yang kontroversial.
Hingga kini, perusahaan belum memberikan klarifikasi resmi terkait kronologi kejadian, motif di balik penganiayaan, maupun dugaan penjebakan terhadap Satgas.
Peristiwa ini menjadi perhatian berbagai organisasi profesi pers dan publik yang menuntut aparat penegak hukum segera turun tangan, menindak oknum preman, menjamin keselamatan anggota Satgas dan wartawan, serta memastikan tidak ada pihak yang menghalang-halangi tugas negara atau menutupi praktik usaha ilegal.
Kasus ini menegaskan perlunya transparansi, perlindungan, dan tindakan tegas agar praktik intimidasi, pemukulan, atau penghalangan tugas tidak terus terjadi di wilayah hukum Indonesia.
Publik dan media menuntut jawaban jelas agar kejadian serupa tidak terulang dan aparat negara serta jurnalis dapat menjalankan tugasnya dengan aman. (KBC)
Satgas Dikeroyok Sampai Tersungkur, Wartawan Diintimidasi






