BANGKA TENGAH – Masyarakat Kecamatan Koba dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir dihadapkan pada keresahan akibat sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax.
Kondisi tersebut terlihat dari antrean kendaraan yang mengular hingga sekitar satu kilometer di SPBU Berok, Kelurahan Berok, Senin (13/7/26).
Panjangnya antrean membuat sebagian masyarakat khawatir stok BBM akan habis. Namun, pihak SPBU Berok memastikan ketersediaan BBM masih aman dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pengawas BBM SPBU Berok, Rizky, mengatakan lonjakan antrean terjadi karena meningkatnya jumlah kendaraan yang datang untuk mengisi BBM. Menurutnya, kapasitas SPBU yang relatif kecil menyebabkan antrean terlihat semakin panjang.
“SPBU kami memang memiliki kapasitas yang terbatas. Dengan meningkatnya jumlah kendaraan yang datang, antrean menjadi cukup panjang. Meski demikian, kami tetap memaksimalkan pelayanan agar penyaluran BBM berjalan lancar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, panjang antrean kendaraan saat ini diperkirakan mencapai sekitar satu kilometer. Untuk mengantisipasi tingginya permintaan masyarakat, kuota BBM harian yang sebelumnya sebanyak 24 kiloliter (KL) telah ditambah menjadi 32 KL.
“Awalnya kuota harian kami 24 KL. Namun karena terjadi lonjakan antrean, kami mendapat tambahan menjadi 32 KL. Jadi untuk stok BBM saat ini masih aman dan mencukupi,” katanya.
Menurut Rizky, tambahan kuota tersebut diharapkan mampu mempercepat penyaluran BBM kepada masyarakat, sehingga antrean dapat segera terurai.
Ia juga menjelaskan bahwa jam operasional SPBU tetap berjalan normal, yakni mulai pukul 07.30 hingga 13.00 WIB, kemudian kembali beroperasi pukul 15.00 hingga sekitar pukul 20.00 WIB. Apabila antrean masih panjang, pelayanan dapat diperpanjang hingga sekitar pukul 20.30 sampai 21.00 WIB.
Dalam memberikan pelayanan, SPBU Berok mengoperasikan tujuh nozzle yang berasal dari empat dispenser. Dari jumlah tersebut, empat nozzle melayani BBM subsidi, sedangkan tiga nozzle melayani BBM non-subsidi.
Rizky menduga membludaknya antrean tidak hanya disebabkan meningkatnya kebutuhan masyarakat, tetapi juga karena adanya SPBU lain yang tidak beroperasi. Kondisi tersebut membuat banyak pengendara beralih melakukan pengisian di SPBU Berok.
Untuk mengantisipasi penyalahgunaan BBM subsidi oleh pelangsir maupun pengecer, pihak SPBU memperketat pengawasan selama proses pengisian. Kendaraan roda empat diwajibkan menggunakan QR Code yang sesuai dengan data kendaraan. Jika data tidak sesuai, petugas tidak akan melayani pengisian BBM.
Sementara itu, untuk kendaraan roda dua, petugas juga melakukan pengawasan terhadap pembelian berulang. Apabila ditemukan kendaraan yang berkali-kali mengantre untuk membeli BBM subsidi, petugas akan memberikan peringatan dan menolak melayani pengisian.
Rizky mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau panic buying. Ia menegaskan bahwa stok BBM di SPBU Berok masih aman dan masyarakat diminta tetap tenang serta membeli BBM sesuai kebutuhan agar distribusi dapat berjalan lancar dan merata.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Stok BBM di SPBU Berok masih aman. Antrean panjang ini lebih disebabkan meningkatnya jumlah kendaraan yang datang mengisi BBM. Kami berharap masyarakat membeli sesuai kebutuhan agar semua bisa terlayani dengan baik,” pungkasnya. (KBC)
BBM Langka? Antrian Mengular Hingga Satu Kilometer






